.
Home » » BIOGRAFI TOKOH SASTRA

BIOGRAFI TOKOH SASTRA

Written By Hadi Prayitno on Kamis, 29 Juli 2010 | 14.28

Sutardji Calzoum Bachri


LATAR BELAKANG KELUARGA:
Sutardji Calzoum Bachri dilahirkan pada tanggal 24 Juni 1943 di Rengat, Indragiri Hulu, Riau.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikannya sampai tingkat doktoral, Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Sosial Universitas Padjadjaran, Bandung.
Sutardji adalah anak kelima dari sebelas saudara dari pasangan Mohammad Bachri (dari Prembun, Kutoarjo, Jawa Tengah) dan May Calzoum (dari Tanbelan, Riau). Dia menikah dengan Mariham Linda (1982) dikaruniai seorang anak perempuan bernama Mila Seraiwangi.
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
Kariernya di bidang kesastraan dirintis sejak mahasiswa yang diawali dengan menulis dalam surat kabar mingguan di Bandung.
Selanjutnya, ia mengirimkan sajak-sajak dan esainya ke media massa di Jakarta, seperti Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, majalah bulanan Horison, dan Budaya Jaya.
Di samping itu, ia mengirimkan sajak-sajaknya ke surat kabar lokal, seperti Pikiran Rakyat di Bandung dan Haluan di Padang. Sejak itu, Sutardji Calzoum Bachri diperhitungkan sebagai seorang penyair.
Pada tahun 2000—2002 Sutardji Calzoum Bachri menjadi penjaga ruangan seni “Bentara”, khususnya menangani puisi pada harian Kompas setelah berhenti menjadi redaktur majalah Horison.
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
Sutardji Calzoum Bachri selain menulis juga aktif dalam berbagai kegiatan, misalnya mengikuti International Poetry Reading di Rotterdam, Belanda (1974), mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, USA (Oktober 1974—April 1975), bersama Kiai Haji Mustofa Bisri dan taufiq Ismail.
Ia pernah diundang ke Pertemuan International Para Pelajar di Bagdad, Irak, pernah diundang Menteri keuangan Malaysia, Dato Anwar Ibrahim, untuk membacakan puisinya di Departemen Keuangan Malaysia, mengikuti berbagai pertemuan Sastrawan ASEAN, Pertemuan Sastrawan Nusantara di Singapura, malaysia, dan Brunei Darussalam, serta pada tahun 1997 Sutardji membaca puisi di Festival Puisi International Medellin, Columbia.
KARYA:
Sutardji dengan “Kredo Puisi”nya menarik perhatian dunia sastra di Indonesia.
Beberapa karyanya adalah:
1. O (Kumpulan Puisi, 1973),
2. Amuk (Kumpulan Puisi, 1977), dan
3. Kapak (Kumpulan Puisi, 1979).
Kumpulan puisnya, Amuk, pada tahun 1976/1977 mendapat Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Kemudian pada tahun 1981 ketiga buku kumpulan pusinya itu digabungkan dengan judul O, Amuk, Kapak yang diterbitkan oleh Sinar Harapan.
Selain itu, puisi-puisinya juga dimuat dalam berbagai antologi, antara lain:
1. Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976),
2. Writing from The Word (USA),
3. Westerly Review (Australia),
4. Dchters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststechting, 1975),
5. Ik Wil Nogdulzendjaar Leven, Negh Moderne Indonesische Dichter (1979),
6. Laut Biru, Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977),
7. Parade Puisi Indonesia (1990),
8. Majalah Tenggara,
9. Journal of Southeast Asean Lietrature 36 dan 37 (1997), dan
10. Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2002).
Sutardji selain menulis puisi juga menulis esai dan cerpen. Kumpulan cerpennya yang sudah dipublikasikan adalah Hujan Menulis Ayam (Magelang, Indonesia Tera:2001). Sementara itu, esainya berjudul Gerak Esai dan Ombak Sajak Anno 2001 dan Hujan Kelon dan Puisi 2002 mengantar kumpulan puisi “Bentara”.
Sutardji juga menulis kajian sastra untuk keperluan seminar. Sekarang sedang dipersiapkan kumpulan esai lengkap dengan judul “Memo Sutardji”
Penghargaan:
Penghargaan yang pernah diraihnya adalah:
1. Hadiah Sastra Asean (SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand (1997),
2. Anugrah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993),
3. Penghargaan Sastra Chairil Anwar (1998), dan
4. Dianugrahi gelar Sastrawan Perdana oleh Pemerintah Daerah Riau (2001).
Soenjono Dardjowidjojo


LATAR BELAKANG KELUARGA:
Soenjono Dardjowidjojo lahir di Pekalongan, Jawa Tengah pada 24 Juli 1938. Soenjono beragama Islam.
Sekarang Profesor bahasa ini berkantor di Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Universitas Atma Jaya, Jalan Jenderal Sudirman 51, Jakarta Selatan, Indonesia.
Telepon dan faksimile: (021) 571?9560
E-mail: soenjono@atmajaya.ac.id
Rumah: Jalan Wibawa Mukti 25 Jatikramat, Pondok Gede, Bekasi, Indonesia
Telepon: (021) 848-0279
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
Pendidikan: Pada tahun 1959 ia menyelesaikan pendidikan di STC Yogyakarta jurusan bahasa Inggris dan memperoleh gelar B.A.; pada tahun 1964 memperoleh gelar M.A., bidang English Applied Linguistics di University of Hawaii. Kemudian, pada tahun 1967 ia mendapat gelar Ph.D., bidang linguistik di Georgetown University.
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
Sebagai seorang pakar bahasa yang mumpuni, Soenjono banyak menyumbangkan ilmunya di luar negeri. Pada tahun 1968?-70 ia menjadi dosen bahasa Indonesia di Victoria University, Wellington, New Zealand, tahun 1970—73 menjadi asisten dosen di University of Hawaii, tahun 1974?-79 menjadi Associate Professor di University of Hawaii, dan pada tahun 1980--1983 diangkat menjadi dosen di University of Hawaii. Sejak tahun 1983 sampai dengan sekarang Soenjono mengabdikan diri di Universitas Atma Jaya sebagai dosen linguistik dan peneliti. Selain itu, pada tahun 1983—1996 ia menjadi dosen tamu di IKIP Jakarta dan di Universitas Indonesia juga sebagai dosen tamu, sejak tahun 1984 sampai dengan sekarang.
Selain aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, Soenjono pernah menjadi Acting Chairman, Department of Indo?Pacific Languages di University of Hawaii. Pada tahun 1980-- 1983 ia dipercaya menjadi Chairman, Department of Indo?Pacific Languages di University of Hawaii. Ia pun pernah menjadi Director, Language Institute di Universitas Atma Jaya pada 1982 sampai dengan 1987 dan Vice?president for Academic Affairs, Universitas Atma Jaya 1983 sampai dengan 1986. Kemudian, pada tahun 1987?-1991 ia menjadi Vice?president for Academic Affairs di Universitas Atma Jaya dan menjadi Dean, Graduate School universitas tersebut pada tahun 1992—1996. Ia juga pernah dipercaya sebagai Head, Language and Cultural Center di Universitas Atma Jaya pada tahun 1997 sampai dengan 1999.
Pengalaman:
1. Sebagai Anggota atau Ketua Organisasi Profesi
1971-73 Chairman, Indonesian Studies, University of Hawaii
1971-82 Member, American Association of University Professors
1972-74 President, the American Council of Teachers of Uncommonly Taught Asian Languages (Affiliate of ACTFL), USA.
1973-74 Member, International Committee for the First Conference on Austronesian Linguistics
1973-77 Member, Indonesian Studies Committee, Association for Asian Studies, USA
1974-77 Chairman, International Committee for the Second Conference on Austronesian Linguistics
1982-88 President, The Linguistics Society of Indonesia (two terms)
1987-now? Indonesian Representative, Committee International Permanent des Linguistes
1999-2002 President, The Linguistics Society of Indonesia
2. Penguji Eksternal:
1972 -- For Robert Blust, Ph.D. Dissertation, University of Hawaii For Ida Bowers, Ph.D. Dissertation, University of Hawaii For E. Lagge, MA Thesis, Australian National University.
1973 -- For Noor Ein Mohamad Noor's MA Thesis, U. of Malaya For Hashim bin
Musa, MA Thesis, University of Malaya For Kay Ikranagara, Ph.D.
Dissertation, University of Hawai
1974 -- For Ida Bagus Mantra, Ph.D. Dissertation, U. of Hawaii
1975 -- For Joan Prindivvile, Ph.D. Dissertation, University of British Columbia.
1978 -- For Arbak bin Othman's MA Thesis, University of Malaya
1981 -- For Sanat bin Md. Nasir's MA Thesis, University of Malaya
1986 -- For Hasyim bin Musha, Ph.D. Dissertation, U. of Malaya
1988 -- For Siusana Kwelyu, Ph.D. Dissertation, IKIP Malang
1991 -- For Anas Yasin, Ph.D. Dissertation, IKIP Malang
1996 -- For Wong Fook Khoon, Ph.D. Dissertation, U. of Malaya
1998 -- For Putri Roslina Abdul Wahid, Ph.D. Dissertation, U. of Malaya
3. Komite Ketua atau Anggota pada Institusi
1982 -- Chairman, B.A. Thesis for Soegianto, Atma Jaya University
1983 -- Member, Ph.D. Dissertation for Lilian Tejasudana, IKIP Jakarta
1984 -- Chairman, B.A. Thesis for Hilda Lastuti, Atma Jaya U. Chairman, M.A. Thesis for Altje Talael, IKIP Jakarta
Member, Ph.D. Dissertation for A. Djunaedi, IKIP Jakarta
Member, Ph.D. Dissertation for Eddi Subroto, U. of Indonesia
FOTO1985 -- Co-chairman, Ph.D. Dissertation for Harimurti K., U. of Indonesia
1989 -- Chairman, Ph.D. Dissertation for Hans Lapoliwa, U. of Indonesia
Chairman, Ph.D. Dissertation for Astini Su'ud, IKIP Jakarta
Chairman, Ph.D. Dissertation for Bakhrun Yunus, IKIP Jakarta
1989 -- Chairman, M.A. Thesis for Lily S. Halim, U. of Indonesia.
Member, Ph.D. Dissertation for M. Faisal Amir, IKIP Jakarta
1990 -- Chairman, B.A. Thesis for I.Gunawati, Atma Jaya U.
Chairman, Ph.D. Dissertation for Marjusman M., IKIP Jakarta
Chairman, M.A.Thesis for Sari Endahwarni, U. of Indonesia
Member, Ph.D. Dissertation for Hasan Alwi, U. of Indonesia
Member, Ph.D. Dissertation for Dendy Sugono, U. of Indonesia
Chairman, Ph.D. Dissertation for S. Effendi S., U. of Indonesia
1991 -- Member, Ph.D.Dissertation for Elisna, IKIP Jakarta
Member, Ph.D Dissertation for Mukhayar, IKIP Jakarta
1993 -- Member, PhD Dissertation for George Bawole, U. of Indonesia
1995 -- Chairman, MA Thesis for Henny Winters, Atma Jaya U.
Member, PhD Dissertation for Sigit, IKIP Jakarta
1996 -- Chairman, Ph. D. Dissertation for Zamzani, IKIP Jakarta
Chairman, Ph.D. Dissertation for Haryanto, IKIP Jakarta
Chairman, MA Thesis for Siti N. Harmidy, Atma Jaya U.
Chairman, MA Thesis for Soenarto, Atma Jaya U.
1997 -- Chairman, PhD Thesis for Nurzisri, U. of Indonesia
1998 -- Chairman, MA Thesis for Herry Chandra, U. of Indonesia
Chairman, MA Thesis for Toto Soediarto, U of Indonesia
Chairman, MA Thesis for Fahmi, Atma Jaya U.
4. Komunitas
1968—1970 Vice President, New Zealand Indonesia Association
1971—1972 Vice President, Hawaii-Indonesia Association
1972—1973 President, Hawaii-Indonesia Association
1975—1977 Member, Board of Directors, East-West Center Alumni Assoc. Hawaii
1980—1981 President, Puohala Elementary School Parents and Teachers' Association, Honolulu
1986—1991 President, Indonesia-New Zealand Alumni Association.
5. Publikasi dan/atau Kertas Kerja
* published or presented internationally
** published or presented nationally
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
KARYA:
A. Buku & Monograf: Akademik
1.* Indonesian Reference Grammar (co-author Ross Macdonald).Washington, D.C.: Georgetown University Press, 1967, 278 pages.
2.* Cultural-Linguistics Aspects in Asian Language Teaching ( editor). Proceedings of the First Annual Meeting of the American Council of Teachers of Uncommon Languages (ACTUAL). Honolulu: Southeast Asian Studies Working Paper, No. 1, 1973, 96 pages.
3.* The Darkening Sky, editor. Marian Morgan's translation of Ki Panjikusmin's "Langit Makin Mendung". Honolulu: Southeast Asian Studies Working Papers, No.
5, 1974, 26 pages.
4.* Sentence Patterns of Indonesian. Honolulu: The University Press of Hawaii, 1978; 2nd edition, 1993, 434 pages.
5.* We Indonesians, editor. Florence Lamoureux's translation of Mochtar Lubis's Manusia Indonesia. Honolulu: Southeast Asian Studies Papers, No. 15, 1979, 43 pages.
6.** Linguistik di Pelbagai Budaya, (translator). A Translation of Robert Lado, Linguistics Across Cultures. Bandung: Ganaco, 1979, 150 pages.
7.** Menggali Milik Sendiri: Karya Rekan di Rantau, (editor). Jakarta: Penerbit Tombak, 1981, 247 pages.
8.* Vocabulary Building in Indonesian. Ohio: Indonesian Summer Studies Institute, Ohio University, 1982, 647 pages.
9.* Indo Pacifica, (editor et al). University of Hawaii: Department of Indo-Pacific Languages, Occasional Papers No. 1, 1981, 219 pages.
10.** Beberapa Aspek Linguistik Indonesia. Jakarta: Jambatan,1983, 318 pages.
11.* Sentence Patterns of Javanese, textbook materials in Progress, 90 pages.
12.* In the Surau: Seven Islamic Short Stories from Indonesia,(editor). Honolulu: Asian Studies Papers, No. 21, 1983, 58 pages.
13.** Perkembangan Linguistik di Indonesia, (editor). Jakarta: Penerbit Arcan, 1985, 108 pages.
14.** Informal Indonesian. Jakarta: Pre-publication Edition, 1994, 200 pages.
15.** PELLBA 1 (Atma Jaya Annual Meeting in Linguistics), (editor). Jkt: Arcan, 1986.
16.** Linguistik: Teori & Terapan, editor. Jakarta: Lembaga Bahasa Atma Jaya, 1987.
17.** PELLBA 4 (editor). Yogyakarta:: Kanisius, 1991.
18.** Strategi dalam Menulis, (translator). To be published by ITB Press, 1999.
19. ** ECHA: Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: Grasindo, 2000. 324 pages.
20. **PELLBA 8 (editor). Yogyakarta: Kanisius, 1995.
21. **PELLBA 11 (editor). Yogyakarta: Kanisius, 1998.
B. Buku : Administrasi
1.** Pengelolaan Universitas Melalui SKS. Jakarta: Arcan, 1988.
2.** PTS dan Potensinya di Hari Depan. Jakarta: Grasindo, 1992.
C. Artikel: Akademik.
1.* "Joos" Semology and Katz-Fodor's Semantics." Paper read at the Meeting of the Linguistic Society of New Zealand, Wellington, July, 1969, 15 pages.
2.* "The meN-, meN-kan, and meN-i Verbs in Indonesian." Philippine Journal of Linguistics, Vol. 2, No. 2, 1971, pp 71-84.
3.* "Some Problems in the Teaching of Uncommonly-Taught Languages." Paper read at the Annual Meeting of the American Council on the Teaching of Foreign Languages, Chicago, November 1971.
4.* "Bahasa Indonesia for Beginners, Books 1 & 2, by P. Danusoegondo." A review article, Philippine Journal of Linguistics, Vol. 3. No. 3, 1972, 99-106.
5.* "Honorifics in Generative Semantics: A Case in Javanese." RELC Journal, Vol. 4, No. 1, 1973, 86?97.
6.* "Javanese Honorifics and Their Implications." Honolulu: South-east Asian Studies Working Paper, ed. N.D. Liem, No. 2, 1973, 100?112.
7.* "The Place of Honorifics in Linguistic Description: A Javanese Example." Paper
read at the meeting of the Linguistic Society of Hawaii, 1973, 12 pages.
8.* "Passives as Reflections of Thoughts: A Case in Indonesian." Language, Literature, and Society, ed. David W. Deliinger. Northern Illinois University: Center for Southeast Asian Studies, Occasional Papers, No. 1, 1973, 1-9.
9.* "Contrastive Analysis: Pros and Cons." Proceedings of the Third Congress of the International Association of Applied Linguistics, ed. Gerhard Nickel. Heidelberg: Julius Groos Verlag, 1974, 45-58.
10.* "Semantic Analysis of datang in Indonesian." Pacific Linguistics, ed. N.D. Liem, Series C, No. 31. Canberra: The Australian National University, 1974, 1-22.
11.* "The Role of Overt Markers in Some Indonesian Javanese Passive Sentences." Proceedings of the First International Conference on Comparative Linguistics. Oceanic Linguistics, Vol. XIII, No. 1 & 2, 1974, pp. 371-390.
12.* "Beberapa Pendekatan untuk Menganalisa Totokromo dalam Bahasa Jawa." Dewan Bahasa, Vol. 23, No. 11, 1979, 34-37.
13.** "Sekitar masalah Awalan beR- dan meN-." Bahasa dan Budaya, Vol. 3, No. 1, 1977, 2-10.
14.** "The Semantic Structures of the Adverdative ke-an Verb in Indonesian." Spectrum: Essays Presented to Sutan Takdir Alisjahbana on His Seventieth Birthday, ed. S. Udin. Jakarta: Dian Rakyat, 1978, 107-124.
15.* "Acronymic Patterns in Indonesian." Pacific Linguistics, ed. N.D. Liem, Series C, No. 45. Canberra: The Australian National University, 1979, 143-160.
16.* "Nominal Derivation in Indonesian." Proceedings of theSecond International Conference on Austronesian Linguistics. Pacific Linguistics, ed. S.A. Wurm and Lois Carrington, Series C, No. 61. Canberra: The Australian National University, 1978, 503-528.
17.* "The Impact of Colonialism in National Language Development." Proceedings of the Third Conference on the National Languages of Asean (ASANAL), ed. A. Halim. Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 1981, 12 pages.
18.* "Kesan Kolonialisme dalam Perkembangan Bahasa?bahasa Nasional." Translation of No. 17. Dewan Bahasa, Vol. 24, No. 7, 1980, 43-53.
19.** "Menuju ke Penjelimetan Sintaksis Indonesia." Menggali Milik Sendiri: Karya Rekan di Rantau, ed. S. Dardjowidjojo. Jakarta: Penerbit Tombak, 1981.
20.* "A Classifier, itu, and -nya: The Way the Indonesian Mind Operates." Proceedings of the International Conference on Malay Culture, ed. N. S. Karim. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1981, 29 pages.
21.* "Penurunan Kata benda dalam Bahasa Indonesia." Translation of No. 16. Dewan Bahasa, 1981, 33 pages.
22.** "Penggolong, itu, dan -nya: Cara Berpikir Bangsa Indonesia." Translation of No.20. Memoir for John Verhaar, ed. Anton M. Moeliono. Jakarta, 1981, 33 pages.
23.* "Some Problems in the Theory of Generative Grammar: A Case in Indonesian Verbal Formation." Pacific Linguistics, Series C, No. 77, 1987: Proceedings of the Third International Conference on Austronesian Linguistics, eds. .E. Wurms & L. Carrington. Canberra: The Australian National University.
24.* "Morphological Gaps in Indonesian." Gava: Studies in Austonesian Languages and Cultures: Festschrift for Hans Kaehler, ed. R. Carle. Berlin: Dietrich Reimer, 1982.
25.** "Poetic License and Morphological Gaps in Indonesian." Read at the Sixth Annual Meeting of the Association for Asian National Languages (ASANAL), Bali, September, 1981.
26.** "Dasar-dasar Neurofisiologis dalam Penguasaan Bahasa." Pusparagam Linguistik dan Pengajaran Bahasa, ed. Bambang Kaswanti. Jakarta: Arcan, 1986.
27.** "Metode-metode Mutahir dalam Pengajaran Bahasa." Lecture delivered at program Pendidikan Guru, Semarang, March 3, 1982.
28.** "Celah-celah Morfologi Bahasa Indonesia." Jakarta: Indonesian Language National Congress, 1982. Translation of No. 24.
29.** "Pola-pola Akronim Bahasa Indonesia." Lecture delivered at Gadjah Mada University, 1984. Translation of No. 15.
30.** "Bentuk Pasif Sebagai Cermin Pikiran Bangsa Indonesia." Read at the 4th Linguistic Society of Indonesia Conference, Denpasar, 1985. Trans. of No. 8.
31.** "Penciptaan Kata dalam Bahasa," Kompas, 31 Oktober 1986.
32.** "Benang Pengikat dalam Wacana." Pusparagam Linguistik dan Pengajaran Bahasa, ed. Bambang Kaswanti. Jakarta: Arcan, 1986.
33.** "Foreign Languages and the Defense of a Nation." Jakarta Post, October 11, 86.
34.** "Beberapa Masalah dalam Penulisan Ilmiah." Kompas, December 1, 1986.
35.** "Beberapa Masalah Penelitian di PTS." Lecture in Private Universities Seminar, Orchid Palace Hotel, 1982.
36.** "Penelitian di Perguruan Tinggi Swasta." Lecture delivered at Kopertis III Seminar, April 26, 1986. Published in Kompas, May 2-3, 1986.
37.** "Prinsip dan Format dalam Penulisan Ilmiah." Lecture delivered at Upgrading Course for Agriculture Lecturers, Ministry of Education, January 6, 1987.
38.** "Theoretical Backgrounds for Materials Development." Keynote Address, TEFLIN, Satya Wacana University, February 6, 1987. Published in Atma nan Jaya, December 1988.
39.** "Keberhasilan Kita Memiliki Bahasa Nasional." Suara Pembaruan, Feb. 4, 1987.
40.** "Beberapa Konsep dan Masalah dalam Bahasa Inggris untuk Tujuan Khusus," Lecture delivered at the Institut Teknologi 10 November, Surabaya, December 20, 1986.
41.* "Problems in Generative Morphology: A Case in Nominal and Verbal Derivation." Paper read at the International Congress of Linguists, East Berlin, August 10-15, 1987.
42.** "Morfologi Generatif: Teori dan Permasalahannya." Pellba I, 1988.Jakrata: Atma Jaya
43.* "Pola-pola Akronim Bahasa Indonesia," paper No. 29 above published in Beriga, April?June, 1986, Bil. 11.
44.** "Masalah Penelitian dan Penelitian Kebahasaan," paper read at the Kongres Bahasa, Jakarta, 28 Oktober 1988.
45.** "Komponen Sintaktik dan Semantik dalam Mesin Penerjemahan." Linguistik dan Teknologi Komputer, B.K. Purwo (ed). Bandung: Penerbit ITB, 1990.
46.** "Interlingua for a Multilingual Machine Translation." Paper read of the Conference on Machine Translation, BPPT, February 7-8, 1990. Published in Atma nan Jaya, August 1990.
47.** "Mesin Penerjemah Berbagai Bahasa". Suara Karya, 6 Januari 1990.
48.** "Mengapa 'kan' Lafalnya 'ken' -" Suara Pembaruan, 19 Januari 1990.
49.** "Analisis Performatif dan Penerapannya pada Bahasa-bahasa di Indonesia". Pellba 3, 1990.
50.** "Pemerolehan Fonologi dan Semantik pada Anak: Kaitannya dengan Penderita Afasia," in Pellba 4, 1991.
51.** "Rasionalisme dalam Linguistik". Panel Diskusi, Konperensi Nasional, Masyarakat Linguistik Indonesia, Semarang, Juli 13-17, 1991.
52.** "Universalisme dan Pengajaran Bahasa". Temu Ilmiah Ilmu?ilmu Sastra, Pasca Sarjana se Indonesia, UNPAD, 21-22 Oktober 1991.
52.** "Berbagai Masalah dalam Penulisan Formal." Presented at the Seminar on Indonesian Language Teaching, IKIP Padang, July 24-25, 1992.
54.** "Nasib Wanita dalam Cerminan Bahasa." Presented at the International Seminar on Humanities, Univ Gadjah Mada, April 1993.
55.** "Kontroversi dalam Pendekatan Komunikatif." PELLBA 6, 1993.
56.** "Some Controversial Issues in the Communicative Approach. " The English version of 55 presented at TEFLIN Seminar, IKIP Padang, September 1993. Published in Selected Articles from 41st TEFLIN Seminar, IKIP Padang Press, 1994.
57.** "Latarbelakang Politik dalam Pemilihan Bahasa Nasional." Suara Karya, 28 Oktober 1993.
58.** "Peningkatan Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing." Presented at the Congress of the Indonesian Language, Jakarta, Oktober 28, 1993.
59.** "Nalar dalam Budaya dan Bahasa Kita." Presented at the National Congress of Linguistics, Palembang, June 1-5, 1994.
60.* "Strategies for a Successful National Language Policy: The Indonesian Case." Read at the International Congress of Sociology, University of Bielefeld, Germany, July 18-23, 1994; and The School of Oriental Studies, University of Frankfurt, July 25, 94. To be published in Journal of Sociolinguistics, J. Fishman (Editor), 1997.
61.** "Mengapa Afiks-afiks itu Lari?" Paper read at the International Conference on Austronesian Language and Culture, Udayana University, Bali, 15-16 August, 94.
62.** "Kendala Budaya dalam Pembangunan Bangsa." Plenary Session paper read at the Conference on Eastern Indonesian Language and Culture, IKIP Manado, November 28-30, 94.
63.** "Interlingua bagi Mesin Penerjemahan." In Mengiring Rekan Sejati: Festchrift buat Pak Ton (editor). Jakarta: Lembaga Bahasa Atma Jaya, 1994.
64.** Mengiring Rekan Sejati: Festschrift buat Pak Ton (Editor). Jakarta: Lembaga Bahasa Atma Jaya.
65.** Pandangan Sekilas mengenai Buku Pintar Berbahasa Indonesia. Seminar Pusat Perbukuan, Depdikbut, 24 April 1955.
66.** "Peran Metodologi dalam Pengajaran Bahasa Inggris." Seminar, Lembaga Indonesia-Amerika, 17 Mei 1995.
67.** "The Socio-political Aspects of English in Indonesia." Plenary Session paper at TEFLIN International Seminar, Yogyakarta, 2-5 Agustus 1995. Published in TEFLIN Journal: An EFL Journal in Indonesia, Vol. VIII, No. 1, 1996.
68.** "Masalah dalam Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing di Indonesia." Seminar Internasional, BIPA, U. of Indonesia, 28-30 Agustus 1995.
69.** "Echa: Perkembangan Bahasa Anak Indonesia -- 12 bulan pertama." PELLBA No 9, 1995.
70.** "Penentu Mutu Bahasa Inggris di Perguruan Tinggi." Seminar, U. Trisakti, December 5-6 1995.
71.** "Teaching, Learning, and Acquiring English." Seminar, Lembaga Indonesia-Amerika, Dec. 18, 1996.
72.** "Metode dan Keberhasilan Pengajaran BIPA." Plenary Session paper at Seminar Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing, Padang, May 29 - June 1, 1996.
73.** "Echa: Perkembangan bahasa Anak Indonesia -- 12-24 bulan." Pellba 10, 22-23 Agustus 1996.
74.* "Idiolek Seorang Indonesia." Plenary Session Paper at the International Conference on Austronesian Dialects." Universiti Brunei Darussalam, August 26-29, 1996.
75.** "The Role of English in Indonesia: A Dilemma." Plenary Session Paper, TEFLIN Seminar, Surabaya, October 7-10, 1996.
76.** "Model Ujaran Penutur Indonesia." Prosiding: Simposium Internasional Ilmu-ilmu Humaniora. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM, Oktober 1996.
77.** "Strategi Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi." Presented at the Seminar Nasional, Universitas Merdeka, Malang, November 11-12, 1996.
78.** "English Teaching: Where Do We Begin?" Trisakti University International Seminar, November 20, 1996.
79.** "Kunci Keberhasilan Bahasa Nasional Kita." In Dardjowidjojo, Bahasa Nasional Kita. Bandung, ITB Press, 1996.
80.** Bahasa Nasional Kita: Dari Sumpah Pemuda ke Pesta Emas Kemerdekaan, (Editor). Bandung: ITB Press, 1996.
81.** "Pengajaran bahasa Inggris di Program D-III." Lecture presented to Kopertis III University Instructors., held at Borobudur University, March 13, 1997.
82.** "Penulisan Ilmiah." Paper presented at the Kopertis III Seminar, 10 Mei 1997, to upgrade instructors in book writing.
83.* "English Policies and Their Classroom Impact in Some ASEAN/Asian Countries." in George Jacobs (Ed.), Language Classrooms of Tomorrow: Issues and Responses. Singapore: RELC, 1997.
84.* "The Acquisition of Indonesian: The First Two Years of Life." Presented at the XVIth International Congress of Linguists, Paris, July 20-25, 1997.
85.** "Cultural Constraints in the Teaching of English in Indonesia." Plenary Session paper presented at the 45th TEFLIN Seminar, Maranatha Christian University, Bandung, August 2-4, 1997.
86.** “Echa: Perkembangan Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia – tahun ketiga.” PELBBA 11. Fogyakarta: Kanisius, 1998.
87. ** “Echa: Perkembangan Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia – tahun keempat.” Paper presented at PELBBA conference, October 23-24, 1998.
88. ** “Bahasa Asing sebagai Bahasa Pengantar dalam Sistem Pendidikan Nasional.” Presented at the Kongres Bahasa, October 26-30, 1998.
88.** “Echa: Perkembangan Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia – tahun kelima”. Paper presented at PELBBA Conference, July 23-24, 1999.
89. * “English Teaching in Indonesia.” English-Australia Journal, Vol. 18, No. 1, Winter 2000.
90.** “Pengajaran, Pembelajaran, dan Pemerolehan Bahasa Asing.” Dalam Kaswanti Purwo (Ed.), Kajian Serba Languistik: untuk Anton Moeliono, Pereksa Bahasa. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.
D. Artikel: Masalah Pendidikan dan Sosial
1.** "Masalah Pengetrapan SKS di PTS." Lecture at ASMI, 1983.
2.** "Clearing House Penelitian Bagi PTS." Lecture at Universitas Muhammadiyah 1984.
3.** "Evaluasi Keberhasilan Program SKS." Lecture at Hotel Sabang, 1984.
4.** "Administrasi Pengabdian Masyarakat dalam Tri Dharma." Lecture delivered at Seminar BM?PTSI, Cipayung, March 18,1986.
5.** "Penerapan SKS dalam S-1, S-2, dan S-3." Kompas, 3 Juli 1986.
6.** "Kurikulum Perguruan Tinggi dan Kesinambungannya." Sinar Harapan, September 1, 1986.
7.** "SKS dan Masalah Penerapannya." Kompas, October 16, 1986.
8.** "Keterpaduan dalam Pengelolaan Universitas." Lecture delivered at Panel Diskusi Pembangunan Kampus Universitas Tarumanagara, November 8, 1986.
9.** "Pemantapan Administrasi Pengabdian pada Masyarakat." Kartika Widya Indonesia, Vol. 2, June, 1986.
10.** "Dosen 'Killer' = Dosen Hebat ?" Suara Karya, 6 Oktober 1989.
11.** "Ujian Negara dalam Pendidikan Tinggi," paper read at the BMPTSI national meeting, Sawangan, August 30?31, 1990.
12.** "Kurikulum Pendidikan Tinggi", paper read at the BMPTSI national Plenary Meeting, Bandung, 29-31 October, 1990.
13.** "Masalah Penerapan SKS di Perguruan Tinggi," paper read at the BMPTSI national Plenary Meeting, Bandung, 29-31 October, 1990.
14.** "Masa Studi Mahasiswa Kita". Suara Karya, 3 Agustus 1991.
15.** "Bagaimana Memilih PTS." Suara Pembaharuan. 13 Juli, 1992.
16.** "Prasarana Budaya untuk Keterbukaan." Kompas, 17 Januari, 1992.
17.** "Antara Nalar dan Keputusan." Kompas, 27 Juli, 1992.
18.** "Kelirukah Penerapan Tridarma Perguruan Tinggi Kita?" Suara Pembaharuan, 29 Maret 1994.
19.** "Benarkah PTN Lebih Baik daripada PTS?" Kompas 26 Maret 1994.
20.** "Disiplin Nasional: Dari Mana Mulainya? In Suara Pembaharuan, Nov. 10, '97.
21.** “Kita dan Mereka dalam Kepangkatan Dosen.” Suara Pembaruan, 13 Januari, 1998.
22.** “Kuliah dalam Bahasa Inggris?” Suara Pembaruan, 23 Maret, 1998.
23.** “Nepotisme: Apa Itu Sebenarnya?” Suara Pembaruan, 2 Juli, 1998.
24. “Reformasi Belum di Rel yang Benar.” Suara Pembaruan, 15 September 2000.
24.** “Lewinsky dan Ghalibie: Pelajaran dalam Moralitas” Suara Pembaruan, 5 Maret 1999.
25. ** “Potret Wakil Rakyat Kita.” Suara Pembaruan, 28 Agustus, 2000.
26. ** “Reformasi Belum di Rel yang Benar.” Suara Pembaruan, 15 September.
Hamsad Rangkuti


LATAR BELAKANG KELUARGA:
Hamsad Rangkuti, lelaki berpenampilan sangat sederhana ini lahir di Titikuning, Medan, Sumatera Utara, pada tanggal 7 Mei 1943 adalah seorang sastrawan Indonesia. Ia sangat dikenal luas masyarakat melalui cerita pendek (cerpen).
Bersaudara enam orang saudaranya, masa kecil ia lewatkan di Kisaran, Asahan, Sumatera Utara. Ia suka menemani bapaknya, yang bekerja sebagai penjaga malam yang merangkap sebagai guru mengaji di pasar kota perkebunan itu.
Kehidupan yang kurang beruntung, mengharuskan Hamsad membantu ibunya ikut mencari makan dengan menjadi penjual buah di pasar. Selain, bekerja sebagai buruh lepas di perkebunan tembakau. “Dulu belum ada semprotan hama, jadi dikerahkan orang untuk merawatnya. Tiap hari saya ikut ibu membalik-balik daun tembakau, bila ada ulatnya kita ambil,” paparnya.
Setelah terkumpul, ulat-ulat itu mereka masukkan ke dalam tabung, yang kemudian dihitung jumlahnya oleh mandor perkebunan,” katanya. Menghadapi kepedihan karena belitan kesulitan hidup, Hamsad pun sering menghabiskan hari-harinya dengan melamun dan berimajinasi bagaimana memiliki dan menjadi sesuatu. Berkembanglah berbagai pikiran liar, yang antaranya ia tuangkan dalam cerita pendek. Kebetulan juga ayahnya suka mendongeng. “Saya merasa bakat mendongeng itu saya peroleh dari ayah saya. Cuma dia secara lisan, saya dengan tulisan,” katanya.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
Pendidikan SMA nya hanya sampai kelas 2 tahun 1961, karena ia tak mampu lagi membayar uang sekolah.
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
Hamsad lalu bekerja sebagai pegawai sipil Kantor Kehakiman Komando Daerah Militer II Bukit Barisan di Medan. Tapi hasrat menjadi pengarang lebih besar daripada bertahan sebagai pegawai.
Saat itu kebetulan akan berlangsung Konferensi Karyawan Pengarang seluruh Indonesia (KKPI) di Jakarta, dan ia termasuk dalam delegasi pengarang Sumatera Utara di tahun 1964. “Setelah pulang konferensi itulah saya memutuskan tinggal di Jakarta,” papar penandatangan Manifes Kebudayaan ini.
Ia tinggal di Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia, Jakarta Pusat. “Saya tidur di ubin beralaskan koran. Karena ubinnya lebih rendah dari jalan, lantainya sering kebanjiran kalau hujan,” kata Hamsad mengungkapkan tahun-tahun awal penderitaannya di Jakarta. Namun di sini ia bisa menguping obrolan para seniman senior, yang sedang mengadakan acara kesenian atau sekadar berkumpul-kumpul di sana.
Kariernya sebagai penulis cerita pendek sejak 1962, dan
Pemimpin Redaksi Majalah Horison.
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
Tak mampu berlangganan koran dan membeli buku, Hamsad terpaksa membaca koran tempel di kantor wedana setempat. Di sanalah ia berkenalan dengan karya-karya para pengarang terkenal seperti Anton Chekov, Ernest Hemingway, Maxim Gorki, O. Henry, dan Pramoedya Ananta Toer.
Dari sini pula kepengarangannya tumbuh dan berkembang. Masih di SMP di Tanjungbalai, Asahan, ditahun 1959, ia menghasilkan cerpennya yang pertama, Sebuah Nyanyian di Rambung Tua, yang dimuat di sebuah koran di Medan.
KARYA:
Kini Hamsad telah mencapai cita-citanya menjadi penulis cerpen yang berhasil. Sejumlah cerpennya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti:
1. Sampah Bulan Desember yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, dan
2. Sukri Membawa Pisau Belati yang diterjemahkan kedalam bahasa Jerman.
Dua cerpen dari pemenang Cerita Anak Terbaik 75 Tahun Balai Pustaka tahun 2001 ini, antara lain:
1. Umur Panjang Untuk Tuan Joyokoroyo, dan
2. Senyum Seorang Jenderal
pada 17 Agustus dimuat dalam Beyond the Horizon, Short Stories from Contemporary Indonesia yang diterbitkan oleh Monash Asia Institute.
Tiga kumpulan cerpennya, antara lain:
1. Lukisan Perkawinan, dan
2. Cemara di tahun 1982, serta
3. Sampah Bulan Desember di tahun 2000,
masing-masing diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, Grafiti Pers, dan Kompas.
Novel pertamanya, Ketika Lampu Berwarna Merah memenangkan sayembara penulisan roman DKI, yang kemudian diterbitkan oleh Kompas pada 1981. Bagi Hamsad, proses kreatif lahir dari daya imajinasi dan kreativitas. Sehingga ia pernah bilang pada suatu seminar di Ujung Pandang bahwa para seniman rata-rata pembohong. Tapi bagaimana ia sendiri terilhami ? Hamsad lalu menunjuk proses penciptaaan cerpennya Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu.
Penghargaan :
- Penghargaan Insan Seni Indonesia 1999 Mal Taman Anggrek & Musicafe,
- Penghargaan Sastra Pemerintah DKI (2000)
- Penghargaan Khusus Kompas 2001 atas kesetiaan dalam penulisan cerpen,
- Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2001),
- Pemenang Cerita Anak Terbaik 75 tahun Balai Pustaka (2001)
Karya Tulis :
1. Sebuah Nyanyian di Rambung Tua (1959),
2. Ketika Lampu Berwarna Merah (1981),
3. Lukisan Perkawinan (1982),
4. Cemara (1982),
5. Sampah Bulan Desember,
6. Sukri Membawa Pisau Belati,
7. Umur Panjang Untuk Tuan Joyokoroyo (2001),
8. Senyum Seorang Jenderal (2001),
9. Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu,
10. Bibir dalam Pispot (2003).
Anton M. Moeliono


LATAR BELAKANG KELUARGA:
Anton M. Moeliono lahir di Bandung pada tanggal 21 Februari 1929, sebagai anak ketiga suami-istri R.M. Moeliono Prawirohardjo dan Maria A. Igno. Ia beristri Cecilia Soeparni Josowidagdo. Anaknya yang sulung, Miriam Dian Pramesti, bersuami Yultido Ichwan. Mereka mempunyai dua anak: Diptraya Pramandana Ratulangi dan Karisa Diacita. Anaknya yang kedua, Isbia Nilam Paramita, bersuami Rafiq Hakim Radinal. Mereka dikaruniai dua orang anak: Giovanni Reshwara Argya dan Rafael Nararya Prasidha.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
Pada tahun 1958 Anton M. Moeliono menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Kemudian, pada tahun 1965 dia memperoleh gelar Master of Arts in General Lingustics di Cornell University, AS. Dia mengikuti program Studi Pascasarjana, Rijksuniversiteit Leiden, pada tahun 1971--1972 dan menjadi Professional Associate di East-West Center, University of Hawai pada tahun 1977.
Setelah itu, pada tahun 1980 dia menjadi Visiting Fellow, Research School of Pacific Studies, The Australian National University. Dia memperoleh gelar doktor Ilmu Sastra, Bidang Linguistik, di Universitas Indonesia pada tahun 1981.
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
Sejak tahun 1982 menjadi guru besar bahasa Indonesia dan Lingustik pada Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.
Sebagai pakar bahasa, Anton Moeliono memiliki segudang pengalaman, baik di Universitas Indonesia, Pusat Bahasa maupun Universitas Atma Jaya. Dia meniti jenjang kariernya di Universitas Indonesia sejak tahun 1958. Pada mulanya dia menjadi Asisten Ahli. Kemudian, ketika berumur 31 tahun, pada tahun 1960--1963 dia menjadi-Ketua Jurusan Sastra Indonesia. Pada tahun 1962--1967 dia menjadi Lektor. Dia juga menjadi Pembantu Dekan Bidang Akademi sejak tahun 1965 sampai dengan 1967 dan Ketua Badan Pimpinan Fakultas Sastra tahun 1966--1967.
Kemudian, pada tahun 1969--1977 dia menjadi Kepala Lembaga Linguistik. Pada tahun 1967--1973 dia diangkat menjadi Lektor Kepala Madya dan pada tahun 1973--1982 menjadi Lektor Kepala. Dia memangku jabatan Ketua Program Pascasarjana Ilmu Sastra pada tahun1982--1983 dan Ketua Program Studi Linguistik Pascasarjana tahun 1987--2000. Kemudian, dia menjadi Ketua Jurusan Sastra Germania pada tahun 1989--1990 dan tahun 1991--1995 merangkap jabatan Ketua Program Studi Sastra Belanda. Dia menjadi profesor tamu pada Goethe Universität, Frankfurt tahun 1990--1991; profesor tamu pada Katholieke Universiteit Brabant, Tilburg, tahun 1991; profesor tidak tetap pada Program Pascasarjana, IKIP Jakarta, pada tahun 1991--1995.
Anton M. Moeliono juga mengabdi pada Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional sejak tahun 1960. Pada tahun 1960--1963 dia menjadi Kepala Bidang Perkamusan. Kemudian, dia menjadi Ketua Komisi Istilah Seksi Linguistik pada tahun 1962--1967 dan pada tahun 1966--1967 menjadi Wakil Ketua Komisi Istilah. Pada tahun 1966--1972 dia diangkat menjadi Ketua Panitia Ejaan Baru. Dia menjadi Wakil Ketua Panitia Kerja Sama Kebahasaan pada tahun 1972--1984 dan Ketuanya pada tahun 1984--1989. Sejak tahun 1993 sampai sekarang dia menjadi Anggota Panitia Kerja Sama Kebahasaan.
Dia memangku jabatan Kepala Pusat Bahasa pada tahun 1984--1989. Dia juga pernah menjadi Direktur Indonesian Linguistics Development Project (Proyek Kerja Sama Universitas Leiden-Pusat Bahasa) pada tahun 1988--1990 dan menjadi Direktur Eksekutifnya pada tahun 1990--1992. Sejak tahun 1993 sampai sekarang, dia aktif sebagai Konsultan Bahasa, khususnya peristilahan di Pusat Bahasa.
Selain di Universitas Indonesia dan Pusat Bahasa, Depdiknas, Anton M. Moeliono juga berkiprah di Universitas Atma Jaya. Dia salah seorang anggota perintis dan pendiri Yayasan Atma Jaya pada 1960, dan menjadi anggota yayasan tersebut sejak tahun 1962 sampai 1999.
Dia menjadi Ketua Badan Harian Yayasan Atma Jaya pada tahun 1967--1968 lalu menjadi anggota badan itu sejak tahun 1968 sampai 1999. Di samping itu, pada tahun 1961--1963 dia menjadi Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan, lalu pada tahun 1964--1970 dia memangku jabatan Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan pada tahun 1967--1970 merangkap menjadi Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Dia kemudian menjadi Direktur Pusat Penelitian pada tahun 1974--1986 dan 1991--1994, dan pada tahun 1980--1981 merangkap menjadi Direktur Lembaga Bahasa.
Pada tahun 1984--1990 selaku warga Atma Jaya dia terpilih menjadi Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik. Kemudian, pada tahun 1993 dia diangkat menjadi Profesor tidak tetap Program Studi Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Program Pendidikan Pascasarjana. Sejak tahun 2000 lalu menjadi guru besar tetap FKIP Atma Jaya dan merangkap sebagai Ketua Program Studi Linguistik Terapan tersebut. Pada tahun 2001 dia mendapat kehormatan menjadi Warga Adipurna Atma Jaya.
Di organisasi profesi Anton M. Moeliono juga aktif. Dia pernah menjadi Wakil Ketua Ikatan Sarjana Kaltolik (ISKA) pada tahun 1959--1963; Wakil Ketua Ikatan Sarjana Sastra Indonesia pada tahun 1961--1966; Ketua Ikatan Lingustik Indonesia, Jakarta, pada tahun 1967--1975; dan Wakil Ketua Masyarakat Linguistik Indonesia pada tahun 1975--1979. Selain itu, Anton M. Moeliono juga menjadi anggota Dewan Pembina Himpunan Pembina Bahasa Indonesia pada tahun 1985--kini, anggota Dewan Pembina Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia pada tahun 1986/kini, anggota Royal Institute of Linguistics and Anthropology, Netherlands tahun 1950--kini, dan anggota Linguistic Society of America tahun 1965 ini.
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
KARYA:
Sebagai pakar bahasa yang sangat dikenal masyarakat, khususnya para pencinta bahasa, Anton Moeliono telah menghasilkan karya yang sampai saat ini masih digunakan sebagai acuan. Daftar karya tersebut adalah sebagai berikut:
- 1958
'Fonologi Bahasa Nias Utara', Skripsi Fakultas Sastra, U.I.
- 1960
(dengan T.W. Kamil) 'Beberapa Patokan dan Saran untuk Pelaksanaan
Linguistik di Indonesia'. Majalah llmu Pengetahuan 2/1. Jakarta.
- 1963
Ragam Bahasa di Irian Barat. Di dalam Koentjaraningrat dan H.W. Bachtiar
(ed.). Penduduk lrian Barat. Jakarta: Penerbit Universitas.
- 1964
'On Grammatical Categories in Indonesian'. Tesis M.A., Cornell
University.
- 1965
(ed.). Kamus Ilmu Bahasa dan Kesusastraan. Djakarta: Lembaga Bahasa
Nasional.
- 1966
'Studi Bidang Bangunan dan Alat Rumah Tangga'. Di dalam Studi Bidang
Kehidupan Desa di Pinggiran Djakarta. Jakarta: Balai Pustaka.
- 1967
a. (ed.) Edjaan Baru Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Dian Rakjat.
b. 'Suatu Reorientasi dalam Tata Bahasa Indonesia'. Di dalam Lukman Ali
dan Achadiati Ikram (ed.). Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagal
Cermin Manusia Indonesia Baru. Jakarta: Gunung Agung.
c. 'Beberapa Tjatatan Bahasa terhadap Doa Harian'.
Berita Liturgi II, 5 dan 6. d. 'Arti Kata Spiritus dalam Bahasa
Indonesia'. Berita Liturgi II, 10.
- 1968
a. 'Terdjemahan Baru Bacaan Alkitab dalam Misa Mempelai'.
Berita Liturgi III, 5.
b. 'Faktor Sosiobudaja dalam Bahasa Kegeredjaan Kita'.
Berita Liturgi III, 11.
- 1969
a. 'Sekali Lagi Masalah Tutur Sapa'. Berita Liturgi IV, 6 dan 7.
b. 'Bahasa Indonesia dan Pembakuannya: Suatu Tinjauan Linguistik'.
Di dalam Majalah Dewan Bahasa XIII, 4, dan di dalam Harimurti
Kridalaksana dan Djoko Kentjono (ed.). Seminar Bahasa Indonesia 1968.
Endeh, Flores: Nusa Indah, 1971.
- 1972
'Aspek Etnolinguistik dalam Terjemahan'. Basis II, 8. Yogyakarta:
Kanisius.
- 1973 'Terms and Terminological Language'. The Indonesian
Quarterly 2/1: 90-104.
- 1975
a. (et al.) Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan. Jakarta : Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
b. (et aI.) Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa.
c. 'A Recent History of Spelling Reforms in Indonesia'. Nusa: Linguistic
Studies in Indonesian and Languages in Indonesia,Part 1. Jakarta:
Badan Penyelenggara Seri Nusa.
d. 'Language Loyalty versus Linguistic Diversification', ASANAL II, 1975.
- 1976
a. 'Ciri-ciri Bahasa Indonesia yang Baku'. Di dalam Amran Halim (ed.).
Politik Bahasa Nasional, II. Jakarta: Pusat Bahasa, 1976 dan Majalah
Pengajaran Bahasa dan Sastra I, 3.
- 1977.
b. 'Penyusunan Tata Bahasa Struktural'. Di dalam Yus Rusyana dan Samsuri
(ed.). Pedoman Penulisan Tata Bahasa Indonesia. Jakarta:
Pusat Bahasa.
- 1978
'Dua Pedoman Pelengkap Pembentukan Istilah' Di dalam Maman Sumantri et
al. Sejarah dan Perkembangan Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa. Jilid 3. Sen Penyuluhan 12.
- 1980
a. 'Bahasa Indonesia dan Ragam-Ragamnya'. Majalah Pembinaan Bahasa
Indonesia, 1:15--34.
b. 'Pemodernan Bahasa Indonesia', Analisis Kebudayaan I, 3: 24--32.
- 1981
'Hal Pemenggalan Kata'. MPBI II: 45--47. Pelangi Bahasa. Suntingan
bersama dengan Harimurti Kridalaksana. Jakarta:
- 1982
'Diksi atau Pilihan Kata'. MPBI III: 139—150.
- 1983
a. 'Ikhtisar Putusan Kongres Bahasa'. MPBI IV:259--261.
b. 'Beberapa Segi Standardisasi Tata Bahasa'. Risalah Kongres Bahasa
Indonesia III, 1978.
c. 'Language Planning and Modernization', Lokakarya Culture Learning
Institute, Hawaii, 1983
- 1984
Santun Bahasa. Jakarta: Gramedia
- 1985
'Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif dalam
Perencanaan Bahasa'. Sen Indonesian Linguistics Development Project,
W.A.L. Stokhof (ed.); juga dalam versi Inggris: Language
Development and Language Cultivation: Alternative Approaches in
Language Planning. Sen Pacific Linguistics, S.A. Wurm (ed.).
- 1986
Language Development and Cultivation: Alternative Approaches in Language
Planning. Pacific Linguistics, Series 0 no. 68 Canberra: The Australian
National University.
- 1987
a. Masalah Bahasa yang Dapat Anda Atasi Sendiri. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
b. 'Intellectualization of the Lexicon: The Development of Indonesian
Terminologies', prasaran pada Kongres Studi Belanda di Indonesia,
Universitas Indonesia, 27 November 1987.
c. ""Indonesian Language in Science and Technology"", prasaran pada
Program Intensif Bahasa dan Budaya Indonesia, Universitas
Satyawacana, Salatiga, 19 Januari 1987.
d. ""Functional Roles of Indonesian: Experiment in Language Planning"",
prasaran pada Annual Conference of Linguistic Society of Papua New
Guinea, Lae, 12 JuIi 1987.
- 1988
a. (Penyunting Penyelia) Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi 1, 1988.
b. ""Indonesia Language vis-Ã -vis Strategies of National Culture
Development"", prasaran pada Program Intensif Bahasa dan Budaya
Indonesia, Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga, 1988.
c. ""Makna Pembinaan Bahasa Jerman di dalam Masyarakat Indonesia"",
prasaran pada Lokakarya Guru Bahasa Jerman Se-Indonesia, Srengseng,
Jawa Barat, 1988.
d. ""Sikap Bahasa yang Bertalian dengan Usaha Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa"", prasaran pada Kongres Bahasa Indonesia V,
Jakarta, 2 November 1988.
e. ""Peranan Bahasa Pembangunan"", prasaran pada Pertemuan Direksi dan
Staf Pertamina, Jakarta, 22 November 1988.
f. ""Pedoman Pengembangan Istilah"", prasaran pada Pertemuan Panitia
lstilah Departemen Kehutanan, Jakarta, 18 Agustus 1988.
g. (Penyunting bersama dengan Soenjono Dardjowidjojo) Tata Bahasa Baku
Bahasa Indonesia, edisi I,1988.
- 1989
Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar. Jakarta: Gramedia. 1989
Language Planning Processes in a Multilingual Society. Leiden: University
of Leiden
- 1993
""The First Efforts to Promote and Develop Indonesian"" dalam
Joshua A. Fishman (ed.) The Earliest Stage of Language Planning:
The ""First Congress"" Phenomenon. Berlin, New York: Mouton de Gruyter.
- 1994
""Indonesian Language Development and Cultivation"" dalam Abdullah
Hassan (Comp.) Language Planning in Southeast Asia. Ohio University
Symposium 1989. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
- 1994
""Standardisation and Modernisation in Indonesian Language Planning""
dalam Georges Luedi (ed.) Sprachstandardisierung. 12 Kolloquium der
Schweizenischen Akademie der Geistes-und Sozialwissenschaften (1991)
Freibung, Schweiz: Universitet Verlag 1994.
- 1994
""Contact-induced Language Change in Present- day Indonesian"" dalam
Tom Dutton dan Darrell T. Tryon (eds.) Language Contact and Change in the
Austronesian Worlds. Trends in Linguistics Studies and Monographs (77).
Berlin, New York: Mouton de Gruyter.
- 1994
""Le Probleme de Ia Langue: Cest a se taper la Tête contre les Murs""
dalam Marcell Bonneff et al. L'Indonesie Contemporaine. Cahier d'Archipel
(21) Paris: LHarmattan.
- 1994
Anton M. Moeliono dan Charles E. Grimes. ""Indonesian (Malay)""
dalam Darrell T. Tryon (ed.) Comparative Austronesian Dictionary: An
Introduction to Austronesian Studies. Part 1: Fascicle 1. Berlin,
New York: Mouton de Gruyter.
- 1996
"Bahasa yang Efisien dan Efektif dalam Bidang Iptek". Bandung: Penerbit
ITB.
- 1997
1. Aspek Teoretis dalam Penerjemahan"".
2. Beberapa Aspek Masalah Penerjemahan ke Bahasa Indonesia. Bandung:
Penerbit ITB.
- 1998
Implikasi Penerjemahan dalam Pengembangan Bahasa Indonesia. Bandung:
Penerbit ITB.
- 2000
a. Bahasa dan Peristilahan dalam Konteks Hukum dan Perundang-undangan.
Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional.
b. Bahasa Indonesia sebagai Alat Pemersatu Bangsa. Media Indonesia.
(19 Desember)
Penghargaan:
Tanda penghargaan yang pernah diterimanya adalah:
1. Bintang Ksatria Ordo Gregorius Magnus Agung dari Vatikan, tahun 1993.
2. Gelar Doktor Honoris Causa Ilmu Sastra dari Melbourne University,
tahun 1995.
3. Bintang Ksatria Perwira ordo Oranje-Nassau dari Kerajaan Belanda,
tahun 1996.
Di samping itu, ada empat buku muhibah yang disampaikan oleh bekas muridnya, rekan dan sahabatnya.
1. Bahasawan Cendekia (1994),
2. Mengiring Rekan Sejawat: Festschrift buat Pak Ton (1994),
3. Telaah Bahasa dan Sastra (1999),
4. Kajian Serba Linguistik untuk Anton Moeliono, Pereksa Bahasa (2001).
Danarto


LATAR BELAKANG KELUARGA:
Danarto dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Jakio Harjodinomo, seorang mandor pabrik gula. Ibunya bernama Siti Aminah, pedagang batik kecil-kecilan di pasar.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
Setelah menamatkan pendidikannya di sekolah dasar (SD), ia melanjutkan pelajarannya ke sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, ia meneruskan sekolahnya di sekolah menengah atas (SMA) bagian Sastra di Solo. Pada tahun 1958--1961 ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis.
Ia memang berbakat dalam bidang seni. Pada tahun 1958—1962 ia membantu majalah anak-anak Si Kuncung yang menampilkan cerita anak sekolah dasar. Ia menghiasi cerita itu dengan berbagai variasi gambar. Selain itu, ia juga membuat karya seni rupa, seperi relief, mozaik, patung, dan mural (lukisan dinding). Rumah pribadi, kantor, gedung, dan sebagainya banyak yang telah ditanganinya dengan karya seninya.
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
Pada tahun 1969—1974 ia bekerja sebagai tukang poster di Pusat kesenian jakarta, Tam Ismail Marzuki. Pada tahun 1973 ia menjadi pengajar di Akademi Seni Rupa LPKJ (sekarang IKJ) Jakarta.
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
Dalam bidang seni sastra, Danarto lebih gemar berkecimpung dalam dunia drama. Hal itu terbukti sejak tahun 1959—1964 ia masuk menjadi anggota Sanggar Bambu Yogyakarta, sebuah perhimpunan pelukis yang biasa mengadakan pameran seni lukis keliling, teater, pergelaran musik, dan tari. Dalam pementasan drama yang dilakukan Rendra dan Arifin C. Noor, Danarto ikut berperan, terutama dalam rias dekorasi.
Pad tahun 1970 ia bergabung dengan misi Kesenian Indonesia dan pergi ke Expo ’70 di Osaka, Jepang. Pada tahun 1971 ia membantu penyelenggaraan Festival Fantastikue di Paris. Pada tahun 1976 ia mengikuti lokakarya Internasional Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, bersama pengarang dari 22 negara lainnya. Pada tahun 1979—1985 bekerja pada majalah Zaman.
Kegiatan sastra di luar negeri pun ia lakukan. Hal itu dibuktikan dengan kehadirannya tahun 1983 pada Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda.
Tulisnanya yang berupa cerpen banyak dimuat dalam majalah Horison, seperti “Nostalgia”, “Adam Makrifat”, dan “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaekat”. Di antara cerpennya, yang berjudul “Rintrik”, mendapat hadiah dari majalah Horison tahun 1968. Pada tahun 1974 kumpulan cerpennya dihimpun dalam satu buku yang berjudul Godlob yang diterbitkan oleh Rombongan Dongeng dari Dirah. Karyanya bersama-sama dengan pengarang lain, yaitu Idrus, Pramudya Ananta Toer, A.A. Navis, Umar Kayam, Sitor Situmorang, dan Noegroho Soetanto, dimuat dalam sebuah antologi cerpen yang berjudul From Surabaya to Armageddon (1975) oleh Herry Aveling. Karya sastra Danarto yang lain pernah dimuat dalam majalah Budaya dan Westerlu (majalah yang terbit di Australia).
Dalam bidang film ia pun banyak memberikan sumbangannya yang besar, yaitu sebagai penata dekorasi. Film yang pernah digarapnya ialah Lahirnya Gatotkaca (1962), San Rego (1971), Mutiara dalam Lumpur (1972), dan Bandot (1978).
KARYA:
Karya lain yang telah ditulisnya adalah:
1. Godlob (kumpulan cerpen, 1975),
2. Adam Makrifat (kumpulan cerpen, 1982),
3. Berhala (kumpulan cerpen, 1987),
4. Orang Jawa Naik Haji (1984),
5. Obrok Owok-Owok,
6. Ebrek Ewek-Ewek (drama, 1976),
7. Bel Geduwel Beh (drama, 1976),
8. Gergasi (kumpulan cerpen, 1993),
9. Gerak-Gerak Allah (kumpulan esai, 1996), dan
10. Asmaraloka (novel, 1999).
Karya-karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Inggris, Belanda, dan Prancis.
Penghargaan lain yang pernah diterimanya adalah:
hadiah sastra dari Dewan Kesenian Jakarta dan hadiah dari Yayasan Buku Utama , Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982 atas cerpennya Adam Makrifat serta hadiah dari Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1987 atas kumpulan cerpennya Berhala. Selain itu, pada tahun 1988 ia mendapat SEA Write Award dari Kerajaan Thailand.
Dr. Gorys Keraf


LATAR BELAKANG KELUARGA:
Dr. Gorys Keraf lahir di Lamera/ Lembata NTT tanggal 17 Nopember 1936. Beliau meninggal diusia 61 tahun pada tanggal 30 Agustus 1997.
Beliau adalah seorang ahli bahasa di Indonesia dan juga tokoh Katolik Indonesia.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
Beliau menamatkan Sekolah Menengah Pertama di Seminari Hokeng (1954).
Kemudian Sekolah Menegah Atas beliau selesaikan di Syuradikara Ende (1958). Masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1959 hingga memperoleh gelar Sarjana Sastra Jurusan Bahasa Indonesia Jurusan Lingustik tahun 1964. Terakhir beliau meraih Doktor dalam bidang Lingustik dari Universitas Indonesia (22 Pebruari 1978) dengan disertasi berjudul Morfologi Dialek Lamarela.
Pernah mengajar di SMA Syuradikara, SMA Seminari di Hokeng, SMA Buddahaya II Jakarta (1962—1965), SMA Santa Ursula dan SMA Theresia (1964),. Beliau juga pernah menjadi dosen di Fakultas Pendidikan dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Unika Atma Jaya (1967), Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian dan Jakarta Accademy Languages Jakarta (1971).
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
Terakhir beliau menjadi dosen tetap di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak tahun 1963, disamping menjadi koordinator mata kuliah Bahasa Indonesia dan Retorika di Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Indonesia.
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
KARYA:
1. Tatabahasa Indonesia (1970)
2. Komposisi (1971, 1980)
3. Diksi dan Gaya Bahasa (1981)
4. Eksposisi dan Deskripsi (1981)
5. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia untuk Tingkat Pendidikan Menengah (1991)
6. Lingustik Bandingan Historis (1958)
7. Lingusitik Bandingan Tipologis (1990)
8. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia Untuk Umum (1992)
Harimurti Kridalaksana


LATAR BELAKANG KELUARGA:
Harimurti Kridalaksana lahir di Ungaran, Jawa Tengah, pada tanggal 23 Desember 1939. Ia memiliki nama lengkap Raden Mas Hubert Emmanuel Harimurti Kridalaksana.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
Pada tahun 1963 Harimurti menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Pada tahun 1971 ia mengikuti pendidikan tentang didaktik bahasa di University of Pittsburg, Amerika Serikat, dan pada tahun 1973 mengikuti summer school sekaligus menjadi visiting scholar di University of Michigan Ann Arbor, Amerika Serkat. Ia pernah menjadi Fulbright Scholar di University of Pittsburgh, Amerika Serikat, pada 1971; Ia juga pernah menjadi visiting scholar di University of Michigan, Amerika Serikat, pada 1973. Pada tahun 1985 ia menjadi pengajar dan peneliti tamu di Johan Wolfgang Goethe Universitat, Jerman. Kemudian, pada tahun 1987 ia memperoleh gelar doktor ilmu sastra.
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
Harimurti memulai karier dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan pada tahun 1961 ketika ia menjadi guru dalam bidang civies dan penerjemah karya-karya dalam ilmu politik dan ilmu sosial selama beberapa tahun. Pada tahun 1961 ia mulai mengabdi di Universitas Indonesia dan mendapat tugas mengajar sejarah linguistik dan linguistik historis komparatif Austronesia pada tahun 1963. Setahun kemudian Harimurti mengajar di Universitas Atma Jaya dan di pelbagai perguruan tinggi di Jakarta dan Yogyakarta, termasuk di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut, Universitas Gadjah Mada. Ia juga pernah mengajar di Frankfurt, Napoli, Kuala Lumpur, dan Bangkok. Ia juga pernah dan masih menjadi external examiner di Universiti Malaya, Universiti Putra Malaysia, Annamalia University (India), dan Universiti Brunei Darussalam. Di Universitas Indonesia ia juga pernah menjadi Ketua Jurusan Sastra Indonesia dua kali dan menjadi Koordinator Bidang Ilmu Budaya Program Pascasarjana selama dua periode.
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
KARYA:
Sebagai pakar bahasa, Harimurti telah manulis makalah lebih dari 100 dan buku lebih dari 20. Di awal kariernya, Ia pernah menulis, antara lain "Towards a standardization of phonologic and morphologic borrowed elements in Indonesian" dalam International Conference of Orientalists, Kuala Lumpur 1967; "Second participant in Indonesian address" dalam International Congress of Orientalist, Camberra (Australia) 1971; dan "Lexicography in Indonesia" dalam International Congress of Linguists, Wina (Austria) 1979. Beberapa penelitian lapangan pernah juga dilaksanakannya, antara lain penelitian sosiolinguistik di Jakarta dalam rangka kerja sama Stanford University dan Universitas Indonesia pada tahun 1969. Selain penelitian sosiolinguistik, Harimurti juga pernah mengadakan penelitian mengenai bahasa Melayu Riau di Pulau Bintan dan Pulau Lingga, lalu melanjutkan penelitiannya mengenai bahasa Orang Laut di Kepulauan Riau dan mengenai bahasa Orang Sakai di Riau Daratan dari tahun 1969 sampai dengan 1972 Penenlitian ini disponsori oleh Lembaga Research Kebudayaan Nasional LIPI. Kemudian, pada tahun 1974 ia melakukan survei politik bahasa di Malaysia, Singapura, dan Filipina.
Harimurti adalah editor Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua dan Kamus Mandarin-Indonesia. Di antara buku-buku yang pernah ditulisnya ialah Kamus Linguistik, Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia, Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, Masa Lampau Bahasa Indonesia:Sebuah Bunga Rampai, Introduction to Word Formation and Word Classes in Indonesian, Wiwara: Pengantar Bahasa dan Kebudayaan Jawa. Makalah penting terkini yang beredar di luar negeri berjudul "The Sanskrit legacy in Indonesia today" yang disajikannya dalam 11th World Conference of Sanskrit di Turino Italia pada 3 April 2000, dan "Paradigma semiotik dalam linguistik Melayu/Indonesia" yang disajikan di Universiti Putra
Malaysia pada 22 Oktober 2001. Dalam bulan Juli 2002 diluncurkan buku terbarunya yang berjudul Struktur, Kategori, dan Fungsi dalam Teori Sintaksis. Di organisasi profesi Harimurti juga aktif. Ia pernah menjadi anggota organisasi ilmiah seperti Linguistic Society of America, Societas Linguistica Europaea, Royal Asiatic Society, International Association of Cognitive Linguistics, Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde, Himpunan Pembina Bahasa Indonesia, Masyarakat Linguistik Indonesia, Perkumpulan Linguistik Malaysia. Ia juga menjadi salah seorang anggota International Committee on Indonesian Etymology, Ketua Himpunan Pembina Bahasa Indonesia yang pertama (2 periode), dan Ketua Masyarakat Linguistik Indonesia 2 periode. Sampai sekarang ia masih menjadi profesor teori linguistik dan Bahasa Indonesia dan Kepala Pusat Leksikologi dan Leksikografi di Universitas Indonesia; dan pada 1 Desember 1999 ia mulai menjabat Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Triyanto Triwikromo


LATAR BELAKANG KELUARGA:
Triyanto Triwikromo lahir di Salatiga, 15 September 1964. Lulus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Semarang.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
Sebelum sebagai seorang sastrawan beliau pernah bekerja sebagai guru dan pekerja kasar di diskotik. Di samping bekerja sebagai redaktur sastra di harian Suara merdeka Semarang, dia juga menulis cerpen di Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Pembaharuan, Matra, Bernas, Jawa Pos, Pelita, Suara Merdeka, dan Republika.
Selain sebagai seorang penulis, dia kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra. Antara lain menjadi pembicara dalam “Pertemuan Teater Indonesia 1998” di Yogyakarta, mengikuti “Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997” di Padang, dan menjadi aktivis Gerakan Revitalisasi Sastra Perdalaman.
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
Beliau juga pernah membuat naskah sinetron yang berjudul Anak-Anak Mengasah Pisau yang digarap sutradara Dedi Setiadi. Pada tahun 1989 beliau dinobatkan sebagai penyair terbaik majalah Gadis. Tahun 1990 beliau dinyatakan sebagai salah seorang penyair terbaik versi Dirjen Kesenian RI. ''Mata Sunyi Perempuan Takroni'' terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Kompas 2002.
KARYA:
Cerpenis yang dikatagorikan Korri Layun Rampan ke dalam “Angkatan 2000” ini beberapa cerpennya dianalogikan bersama cerpenis lain dalam:
1. Panorama Dunia Keranda (1991),
2. Kasidah Jalan Raya (1992),
3. Kicau Kepodang I (1993),
4. Ritus (1995),
5. Negeri Bayang-Bayang (1996),
6. Gerbong: Antologi Puisi dan Cerpen Indonesia Modern (1998),
7. Pintu Tertutup Salju (2000 bersama Herlina Solehan),
8. Rezim Seks dan Ragaula (2002),
9. Children Sharpening the Knives (2003),
10. kumpulan cerpen Sayap Anjing (2003).
Kumpulan Cerpen Terbarunya dibuat dalam dwibahasa (Inggris-Indonesia)
Cerpen-cerpen beliau antara lain,
1. “Tujuh Belas Agustus, Tampa Tahun” (1991),
2. “Monumen” (1991),
3. “Ritus Penyalipan” (1992),
4. “Labirin Kesunyian” (1992),
5. “Sepanjang Waktu dalam Penyalipan-Mu” (1993),
6. “Litani Kebinasaan”, (1993),
7. “Ninabobo Televisi” (1996),
8. “Cinta Tak Mati-Mati” (1997),
9. “Masuklah ke Telingaku Ayah” (1999),
10. “Mata Sunyi Perempuan Takroni” (2002),
11. “Sepasang Anjing Sepasang Cermin” (2002),
12. “Cermin Pasir” (2002),
13. “Sunyi Merambat Seperti Ular” (2002),
14. “Morgot” (2002),
15. “Ikan Asing dari Weipa – Nappranum” (2002),
16. “Cermin Pasir” (2002),
17. “Cinta Sepasang Kupu-Kupu” (2003),
18. “Genjer” (2003),
19. “Malam Sepasang Lampion” (2003),
20. “Cutdacraeh” (2003),
21. “Seperti Gerimis yang Meruncing Merah” (2003),
22. “Sayap Anjing” (2003),
23. “Aku, Ular, Surga Terakhirmu” (2003),
24. “Angin dari Ujung Angin” (2004),
25. “Malaikat Kakus” (2005),
26. “Sayap Kabut Sultan Ngamid” (2005),
27. “Lumpur Kuala Lumpur” (2005),
28. “Malaikat Tanah Asal” (2006),
29. “Belenggu Salju” (2007),
30. “Badai Bunga” (2007), dan
31. “Matahari Musim Dingin” (2007).
WS. Rendra (1935--2009)


LATAR BELAKANG KELUARGA:
WS. Rendra, yang bernama asli Willibrordus Surendra Broto, lahir di Solo pada tanggal 7 November 1935 dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu.
Penyair dan budayawan yang diberi julukan si “Burung Merak” ini menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok, Kamis (6/8) pukul 22.20 WIB pada usia 74 tahun. Ribuan pelayat menghadiri proses pemakaman dramawan WS Rendra di kompleks pemakaman keluarga di kawasan Cipayung Jaya, Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8) siang.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
Ia memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, di kota yang sama. Setamat SMA Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah ditutup. Lalu ia pergi ke Yogyakarta dan masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada. Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya, tidak berarti ia berhenti untuk belajar. Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika, ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerpen, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.
Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.
“Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya.
Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.
Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya:
1. The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979),
2. The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985),
3. Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985),
4. The First New York Festival Of the Arts (1988),
5. Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989),
6. World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).
Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul
Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.
Pada tahun 1961, sepulang dari Amerika, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika. Ketika kembali lagi ke Indonesia ( 1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater. Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.
Pada perkembangannya Bengkel Teater dipindahkan Rendra di Depok.Si Burung Merak, demikian dia diakrabi banyak orang, menghentakkan puisi-puisi penuh nilai dan moral serta berenergi dalam membangunkan negeri ini dari tidur pulas karena dipeluk materialisme, ketidakpedulian dan pengabaian, sekaligus menegakkan jiwa-jiwa lunglai karena bekapan tirani, penyimpangan dan kesewenang-wenangan. Penyair yang pernah dimiliki Indonesia ini telah meninggalkan dunia untuk selamanya, tetapi puisi-puisi dan semua karya sastranya, larut abadi di setiap generasi setelahnya.
KARYA:
Karya-karya Rendra, antara lain, adalah:
a. Kumpulan Puisi
1) Ballada Orang-Orang Tercinta (1957),
2) 4 Kumpulan Sajak (1961),
3) Blues untuk Bonie (1971),
4) Sajak-Sajak Sepatu Tua (1972),
5) Nyanyian Orang Urakan (1985),
6) Potret Pembangunan dalam Puisi (1983),
7) Disebabkan oleh Angin (1993), dan
8) Orang-Orang Rangkas Bitung (1993);
b. Drama
1. Orang-Orang di Tikungan Jalan (1954),
2. Selamatan Anak Cucu Sulaiman (1967),
3. Mastodon dan Burung Kondor (1972),
4. Kisah Perjuangan Suku Naga (1975),
5. SEKDA (1977), dan
6. Panembahan Reso (1986);
c. Kumpulam Esai
Mempertimbangkan Tradisi (1983).
Penghargaan:
Untuk kegiatan seninya Rendra telah menerima banyak penghargaan, antara lain Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954) Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956); Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970); Hadiah Akademi Jakarta (1975); Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976) ; Penghargaan Adam Malik (1989); dan The S.E.A. Write Award (1996).
Nugroho Notosusanto


LATAR BELAKANG KELUARGA:
Nugroho Notosusanto lahir di Rembang, Jawa Tengah pada tanggal 15 Juli 1930. Ayah Nogroho bernama R.P. Notosusanto yang mempunyai kedudukan terhormat, yaitu seorang ahli hukum Islam, Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada, dan seorang pendiri UGM. Kakak Nugroho pensiunan Patih Rembang dan kakak tertua ayah Nugroho adalah pensiunan Bupati Rembang. Pangkat patih, apalagi bupati sangat sulit dicapai rakyat pribumi pada waktu itu di daerah pesisiran Rembang. Nugroho adalah anak pertama dari tiga bersaudara.
Ketika Nugroho sedang giat-giatnya dalam gerakan mahasiswa, ia berkenalan dengan Irma Sawitri Ramelan (Lilik). Perkenalan itu kemudian diteruskan ke jenjang perkawinan pada tangal 12 Desember 1960, di Hotel Indonesia. Istri Nugroho adalah keponakan istri Menteri Ristek Prof. Dr. B.J. Habibie. Dari perkawinan itu mereka dikaruniai tiga orang anak, yang pertama bernama Indrya Smita sudah tamat FIS UI, yang kedua Inggita Sukma, dan yang ketiga Norottama.
Nugroho meninggal dunia hari Senin, 3 Juni 1985 pukul 12.30, di rumah kediamannya karena serangan pendarahan otak akibat tekanan darah tinggi. Ia adalah menteri keempat di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada masa Orde Baru yang meninggal dunia dalam masa tugasnya. Ia meninggal dunia tepat pada bulan yang mulia bagi umat Islam, yaitu pada bulan Ramadan dan di kebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
Pendidikan yang pernah diperoleh Nugroho adalah Europese Legere School (ELS) tamat 1944, kemudian menyelesaikan SMP di Pati Tahun 1951 tamat SMA di Yogyakarta. Setamat SMA ia masuk Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah, Universitas Indonesia, dan tamat tahun 1960. Tahun 1962 ia memperdalam pengetahuan di bidang Sejarah dan Filsafat di University of London. Ketika tamat SMA, sebagai seorang prajurit muda ia dihadapkan pada dua pilihan, yaitu meneruskan karier militer dengan mengikuti pendidikan perwira ataukah menuruti apa yang diamanatkan ayahnya untuk menempuh karier akademis. Ayahnya dengan tekun dan sabar mengamati jejaknya. Ternyata, setelah 28 tahun, keinginan ayahnya terkabul meskipun sang ayah tidak sempat menyaksikan putranya dikukuhkan sebagai guru besar FSUI karena ayahnya telah wafat pada tanggal 30 April 1979. Dengan usaha yang sebaik-baiknya, amanat ayahnya kini telah diwujudkan meskipun kecenderungan pada karier militernya tidak pula tersisih. Pada tahun 1977 ia memperoleh gelar doktor dalam ilmu sastra bidang sejarah dengan tesis The Peta Army During the Japanese Occupation in Indonesion, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tentara Peta pada Zaman Pendudukan Jepang di Indonesia. diterbitkan oleh penerbit Gramedia pada tahun 1979. Nugroho mendapat pendidikan di kota-kota besar seperti, Malang, Jakarta, dan Yogyakarta.
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
Pengalaman Nugroho Notosusanto di bidang kemiliteran, pernah menjadi angota Tentara Pelajar (TP) Brigade 17 dan TKR Yogyakarta. Sejak Nugroho menjadi anggota redaksi harian Kami, ia semakin menjauh dari dunia sastra, akhirnya ia tinggalkan sama sekali. Ia kemudian beralih ke dunia sejarah dan tulisannya mengenai sejarah semakin banyak. Pada tahun 1967, Nugroho mendapatkan pangkat tituler berdasarkan SK Panglima AD No. Kep. 1994/12/67 berhubungan dengan tugas dan jabatannya pada AD. Sejak tahun 1964, ia menjabat Kepala Pusat Sejarah ABRI. Ia juga menjadi anggota Badan Pertimbangan Perintis Kemerdekaan serta aktif dalam herbagai pertemuan ilmiah di dalam dan di luar negeri. Pada tahun 1981 namanya kembali disebut-sebut berkenaan dengan bukunya Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara. Buku ini menimbulkan polemik di berbagai media massa. Bahkan banyak pula yang mengecam buku itu sebagai pamflet politik.
Di bidang pendidikan, Nugroho banyak memegang peranan penting. Ia pernah menjadi Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FSUI, menjadi Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, UI. Tahun 1971--1985 Nugroho menjadi wakil Ketua Harian Badan Pembinaa Pahiawan Pusat. Ketika Nugroho dilantik menjadi Rektor UI, ia disambut dengan kecemasan dan caci maki para mahasiswa UI. Mahasiswa menganggap Nugroho adalah seorang militer dan merupakan orang pemerintah yang disusupkan ke dalam kampus untuk mematikan kebebasan kehidupan mahasiswa.
Pada tanggal 15 Januari 1982, Nugroho dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam kabinet pembangunan IV. Ia dikenal sebagai orang yang kaya ide, karena semasa menjadi menteri, ia mencetuskan banyak gagasan, seperti konsep wawasan almamater, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, Pendidikan Humaniora. Di samping itu, banyak jasa-jasanya dalam dunia pendidikan karena ia yang mengubah kurikulum menghapus jurusan di SMA, sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru (Sipenmaru). Walaupun Nugroho hanya dua tahun menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, banyak hal yang telah digarapnya, yaitu UT sebagai perguruan tinggi negeri yang paling bungsu di Indonesia. Program Wajib Belajar, Orang Tua Asuh, dan pendidikan kejuruan di sekolah menengah. Nugroho adalah satu-satunya menteri yang mengeluarkan Surat Keputusan mengenai tata laksana upacara resmi dan tata busana perguruan tinggi. Akan tetapi, sebelum SK ini terlaksana Nugroho telah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa.
Puncak pengakuan atas sumbangan Nugroho terhadap bangsa Indonesia adalah diberikannya Bintang Dharma, Bintang Gerilya, Bintang Yudha, Dharma Naraya, Satyalencana Penegak. Akan tetapi, sayang dia telah mendahului kita menghadap Tuhan Yang Maha Esa.
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
Nugroho dikenal sebagai penulis produktif. Di samping sebagai sastrawan dan pengarang, ia juga aktif menulis buku-buku ilmiah dan makalah dalam berbagai bidang ilmu, dan terjemahannya yang diterbitkan berjumlah dua puluh satu judul. Buku-buku itu sebagian besar merupakan lintasan sejarah dan kisah perjuangan militer. Wawasan yang mendalam tentang sejarah perjuangan ABRI menyebabkan ia mampu mengedit film yang berjudul ‘Pengkhianatan G.30S/PKI.”
Di bidang keredaksian dapat dicatat sejumlah pengalamannya, yaitu memimpin majalah Gelora, menjadi pemimpin redaksi Kompas, anggota dewan redaksi Mahasiswa bersama Emil Salim Tahun 1955-1958, menjadi ketua juri hadiah sastra, dan menjadi pengurus BMKN. Sewaktu di perguruan tinggi ia menjadi koresponden majalah Forum, dan menjadi redaksi majalah Pelajar.
Nugroho juga aktif dalam berbagai pertemuan ilmiah baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dalam tahun 1959-1976 tercatat empat kali pertemuan ilmiah internasional yang dihadirinya.
Pengarang yang dimasukkan H.B. Jassin ke dalam golongan sastrawan Angkatan 66 termasuk juga sastrawan angkatan baru (periode 50-an) menurut versi Ajip Rosidi di antaranya adalah Nugroho Notosusanto.
Di antara pengarang semasanya, Nugroho dikenal sebagai penulis esai. Sebagian besar pengarang waktu itu hanya menulis cerpen dan sajak, tetapi Nugroho banyak menulis esai. Nugroho menyelami zamannya, terutama tentang sastra dan kebudayaan. Tulisan-tulisan yang berisi pembelaan para sastrawan muda, yaitu ketika terdengar suara-suara tentang krisis kesusastraan, menyebabkan Nugroho Notosusanto tertarik dalam dunia sastra Indonesia. Nugroholah yang memprakarsai simposium sastra FSUI pada tahun 1953; yang kemudian dijadikan tradisi tahunan sampai tahun 1958.
Bakat Nugroho dalam mengarang sudah terlihat ketika masih kecil. Ia mempunyai kesenangan mengarang cerita bersama Budi Darma. Cerita Nugroho selalu bernapas perjuangan. Pada waktu itu Republik Indonesia memang sedang diduduki oleh Belanda. Dari cerita-¬cerita yang dihasilkan Nugroho waktu itu, tampak benar semangat nasionalismenya. Menurut ayahnya, Nugroho mempunyai jiwa nasionalisme yang besar.
Sebagai sastrawan, pada mulanya Nugroho menghasilkan sajak dan sebagian besar pernah dimuat di harian Kompas. Oleh karena tidak pernah mendapat kepuasan dalam menulis sajak, Nugroho kemudian mengkhususkan diri sebagai pengarang prosa, terutama cerpen dan esai. Karyanya pernah dimuat di berbagai majalah dan surat kabar seperti Gelora, Kompas, Mahasiwa, Indonesia, Cerita, Siasat, Nasional, Budaya, dan Kisah. Di samping itu, Nugroho juga menghasilkan karya terjemahan. Hasil terjemahan Nugroho, yaitu Kisah Perang Salib di Eropa (1968) dari Dwight D. Eisenhower, Crusade in Europe, Understanding Histotry: A Primer of Historical Method. Terjemahan tentang bahasa dan sejarah, yaitu Kisah daripada Bahasa, 1971 (Mario Pei, The Story of Language), dan Mengerti Sejarah. Karena Nugroho cukup lama dalam kemiliteran, ia dapat membeberkan peristiwa-peristiwa militer, perang serta suka dukanya hidup, seperti dalam cerpennya yang berjudul ‘Jembatan’, “Piyama”, “Doa Selamat Tinggal”, “Latah”, dan “Karanggeneng’. Dalam cerpen ini bahasa yang digunakan padat dan sering ada kata-kata kasar. Nugroho juga dapat bercerita dengan bahasa yang halus, seperti yang terdapat pada cerpen yang berjudul “Nini.” Cerpen yang berjudul “Nini” ini bertema seorang anak yang cacat dan ditinggal meninggal oleh ibunya, tetapi masih mengingat-ingat kebaikan ibunya. Cerpen ini bahasanya sedehana dan isinya mudah dimengerti pembaca. Isi cerpen ini tentang seorang ayah mencintai anaknya yang cacat dan yang mirip dengan almarhumah istrinya.
Lingkungan pendidikan kata-kata kasar agaknya memberi pengaruh pada sikap dan pandangan hidupnya, seperti sikap terhadap dunia nenek moyang yang magis religius. seperti kita lihat dalam cerpennya yang berjudul “Mbah Danu”, yaitu mengisahkan dukun “Mbah Danu” yang terjadi di kota kelahiran pengarang. Dukun besar yang diakui keampuhannya di seluruh daerah dalam menyembuhkan orang sakit dengan mengusir roh-roh, setan-setan, dan jin-jin yang biasanya menghuni orang yang sedang sakit. Adanya kepercayaan mistik ini kemudian menimbulkan pertentangan di kalangan ilmuwan yang berpendidikan modern yang tak mau tahu tentang ilmu gaib. Begitu juga seorang dokter yang melakukan tugasnya dengan perhitungan ilmiah.
Sebagai pengarang dan sebagai tentara Nugroho dapat bercerita tentang suasana pertempuran, baik tentang tempat, maupun peralatan peperangan. Pengarang mau berkata sejujurnya bahwa manusia itu tidak bebas dari kesalahan, baik dia tentara, pelajar, maupun pemimpin, seperti yang dilukiskannya dalam cerpen “Pembalasan Dendam.”
Kumpulan cerpen Hujan Kepagian berisi enam cerita pendek yang semuanya menceritakan masa perjuangan menghadapi agresi Belanda. Buku ini cukup memberi gambaran tentang berbagai segi pengalainan manusia yang mengandung ketegangan, penderitaan, pendambaan, dan sesalan yang sering terjadi dalam peperangan. Dari sini tampak bahwa Nugroho mempunyai bakat observasi yang tajam.
Bukunya yang berjudul Tiga Kota berisi sembilan cerita pendek yang ditulis antara tahun 1953-1954, judul Tiga Kota diambil karena latar cerita terjadi di tiga kota, yaitu Rembang, Yogyakarta, dan Jakarta, kota yang paling banyak memberinya inspirasi untuk lahirnya cerita. Rembang melatari cerita kenangan “Mbah Danu”, “Penganten”, dan “Tayuban”. Yogyakarta dan Jakarta melatari cerita “Jeep 04-1001 Hilang” dan “Vickers Jepang.” Oleh karena itu, kumpulan cerpen tersebut diberi judul Tiga Kota. Cerpen-cerpen yang terkandung dalam Tiga Kota ini pada umumnya sangat menarik, tidak hanya karena penuturan cerita yang lancar dan dipaparkan dengan gaya akuan, tetapi juga karena penulis sendiri mengalami peristiwa yang dituturkannya. Dengan demikian, cerpen-cerpen itu kelihatan hidup. Kumpulan cerpen Tiga Kota, ini sedikitnya merekam kehidupan pribadi penulis.
Dalam seminar kesusastraan yang diselenggarakan oleh FSUI tahun 1963, Nugroho membawkan makalahnya yang berjudul “Soal Periodesasi dalam Sastra Indonesia.” Ia mengemukakan bahwa sesudah tahun 50 ada periode kesusastraan baru yang tidak bisa lagi dimasukkan ke dalam periodisasi sebelumnya. Menurut Nugroho, pengarang yang aktif mulai menulis pada periode 50-an adalah mereka yang mempunyai tradisi Indonesia sebagai titik tolaknya, dan juga mempunyai pandangan yang luas ke seluruh dunia.
KARYA:
A. Cerpen yang Dibukukan
(1) Hidjau Tanahku, Hidjau Badjuku. 1963. Jakarta: Balai Pustaka
(2) Hudjan Kepagian. 1958. Jakarta: Balai Pustaka
(3) Rasa Sayange. 1961. Jakarta: Pembangunan
(4) Tiga Kota. 1959. Jakarta: Balai Pustaka
B. Cerpen dalam Majalah
1. Prosa
(1) “Pondok di Atas Bukit”. Kompas untuk generasi baru, 11.1, (51), 15—17.
(2) “Teratak”. Kompas untuk generasi baru, 13.1, (51), 33-34. (Nugroho NS)
(3) “Sebuah Pertemuan”. Kompas untuk generasi baru, 2.2, (52), 33-35.
(4) “Eksekusi” Madjalah Nasional, 44.4, (53), 20-21.
(5) “Gunung Kidul”. Madjalah Nasional, 30.4, (53), 20-2 1.
(6) “Jeep 04-1001 Hilang”. Kisah, 1.1, (53), 7, 9-10.
(7) “Konyol”. Madjalah Nasional, 33.4, (53), 20-22.
(8) “Pembalasan Dendam”. Madjalah Nasional, 37.4, (53), 20-22.
(9) “Ideal Type”. Kisah, 1.2, (54), 19-22
(10) “Mbah Danu”. Kisah, 9.2, (54), 271-172.
(11) “Nokturne”. Kisah, 12.2, (54), .365-368.
(12) “Piyama”. Kisah, 6.2, (54), 177-178.
(13) “Puisi”. Kisah, 7.2, (54), 210-211.
(14) “Raden Satiman”. Kisah, 3.2, (54), 79-81.
(15) “Vickers Jepang”. Kisah, 5.2, (54), 129-131.
(16) “Jembatan”. Kisah, 8.3, (55), 16-22.
(17) “Partus”. Mimbar Indonesia, 25.9, (55), 20-2 1, 24-25.
(18) “Senyum”. Madjalah Nasional, 6,7.6, (55), 25-26,22-23,26.
(19) “Setan Lewat”. Mimbar Indonesia, 6.9, (55), 20-21.
(20) “Panser”. Siasat, 524.11, (57), 29-31, 34.
(21) “Tangga Kapal”. Forum, 4-5.4 (57), 24,32.
(22) “Kepindahan”. Siasat, 598.12, (58), 31-32.
(23) “Piano”. Siasat, 574.12, (58), 24-27.
(24) “Ular”. Siasat, 595.12, (58), 26-29.
(25) “Karanggenang”. Siasat, 619.13, (59), 28-30.
(26) “Latah”. Siasat, 626.13, (59), 23-24.
(27) “Sungai”. Budaya, 8.8, (59), 276-279,
(28) “Bayi”. Femina, 16, (73), 42-44.
2. Prosa
(1) “Alun”. Kompas untuk generasi baru, 1.2, (52), 67.
(2) “Jerit di Malam Kelam”. Madjalah Nasional, 18.3, (52), 17.
(3) “Pesan di Malam yang Penub Bintang”. Madjalah Nasional, 17.3, (52), 19.
(4) “Rancangan Requiem”. Kompas untuk generasi baru, 1.2, (52), 67.
(5) “Sebuah Pagi”. Madjalah Nasional, 49.3, (52), 21.
(6) “Sepotong Kenangan”. Madjalah Nasional, 46.3, (52), 19.
(7) “Sesal”. Kompas untuk generasi baru, 2.2, (52), 36.
(8) “Tiwikraina”. Madjalah Nasional, 47.3, (52), 19.
(9) “Adios Yogya”. Madjalah Nasional. 10.4, (53), 19.
(10) “Amerta”. Madjalah Nasional, 16.4. (53), 19.
(11) “Bali”. Budaya, 9, (53), 39.
(12) “Longka Pura”. Madjalah Nasional, 16.4, (53), 19.
(13) “Sebuah Malam Minggu”. Madjalah Nasional, 14.4, (53), 1
Pramoedya Ananta Toer


LATAR BELAKANG KELUARGA:
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, tanggal 6 Februari 1925. Ayahnya adalah seorang guru yang mula-mula bertugas di HIS di kota Rembang, kemudian, menjadi kepala guru sekolah swasta di Boedi Oetomo sampai menjadi kepala sekolah tersebut. Ibunya anak seorang penghulu di Rembang. Pada tahun 1950 ia menikah dengan wanita yang sering datang ke penjara ketika ia di penjara.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
Pramoedya Ananta Toer menamatkan pendidikan di sekolah rendah (sekolah dasar) Institut Boedi Oetomo di Blora. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan selama 1,5 tahun ke Sekolah Teknik Radio Surabaya (Radio Volkschool Surabaya) di Surabaya (1940—1941).
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
Pada tahun 1942 Pramoedya pergi ke Jakarta. Ia bekerja di kantor Berita Jepang Domei sebagai juru ketik. Sambil bekerja, ia mengikuti pendidikan di Taman Siswa (1942—1943) dan mengikuti kursus di Sekolah Stenografi (1944—1945). Selanjutnya, ia kuliah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta (1945) untuk mata kuliah filsafat, sosiologi, dan sejarah. Pada tahun 1945 ia keluar dari tempa kerjanya, yaitu Kantor Berita Jepang Domei dan pergi menjelajahi Pulau Jawa.
Pada tahun 1946 Pramoedya menjadi anggota Resimen 6 Devisi dengan pangkat letnan dua Tentara Keamanan Rakyat yang ditempatkan di Cikampek. Ia kembali ke Jakarta tahun 1947. Tanggal 22 Juli 1947 ia ditangkap marinir Belanda karena menyimpan dokumen gerakan bawah tanah menentang Belanda. Kemudian, ia ditahan di penjara pemerintah Belanda di Pulau edam dan di di Bukit Duri, Jakarta, sampai tahun 1949. Pada tahun 1950—1951 ia bekerja di Balai Pustaka sebagai redaktur. Pada tahun 1952 Pramoedya mendirikan dan memimpin Literary dan Fitures Agency Duta sampai tahun 1954. Tahun 1953 ia pergi ke Belanda sebagai tamu Sticusa (Yayasan Belanda Kerja Sama Kebudayaan). Tahun 1956 ia berkunjung ke Peking, Tiongkok, untuk menghadiri peringatan hari kematian Lu Sun.
Pada tahun 1958 Pramoedya Ananta Toer terlibat sebagai anggota Pimpinan Pusat Lembaga Kesenian Jakrta (Lekra) yang berada di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI). Keterlibatnnya dengan Lekra menjadikannya harus berhadapan dengan seniman yang tidak sealiran, terutama yang menentang PKI, seperti dalam penandatanganan Manifestasi Kebudayaan.
Pada tahun 1962 ia menjabat redaktur Lentera. Selain itu, ia juga menjadi dosen di Fakultas Sastra, Universitas Res Publika, Jakarta, sebagai dosen Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai.
Pada masa kejatuhan Partai Komunis Indonesia, Pramoedya dibuang ke Pulau Buru karena dianggap terlibat PKI yang saat itu PKI hendak menggulingkan pemerintah Republik Indonesia tanggal 30 September 1960. Ketika terjadi penangkapan terhadapnya, ia mendapatkan penyiksaan. Setelah itu, ia dipenjarakan Tangerang, Salemba, Cilacap, dan selama sepuluh tahun hidup di pengasingan Pulau Buru. Karyanya yang dihasilkan selama dalam pengasingan itu pada umumnya dilarang oleh Kejaksaan Agung. Setelah rezim Orde Baru jatuh, (1998), Pramoedya Ananta Toer dibebaskan dari pengasingan di Pulau Buru.
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
Pramoedya Ananta Toer yang mengarang sejak tahun 1940-an telah menghasilkan banyak karya sastra, yaitu cerpen, novel, esai, dan karya terjemahan. Karya Pramoedya banyak yang sudah diterjemahkan dalam bahasa asing, yaitu Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Rusia, dan Jepang.
KARYA:
Karya Pramoedya Ananta Toer, antara lain, adalah sebagai berikut.
A. Novel
1. Sepuluh Kepala Nica (1946)
2. Kranji Bekasi (1947)
3. Perburuan (1950)
4. Keluarga Gerilya (1950)
5. Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
6. Bukan Pasar Malam (1951)
7. Di Tepi Kali Bekasi (1951)
8. Gulat di Jakarta (1953)
9. Midah, Si Manis Bergigi Emas (1954)
10. Korupsi (1954)
11. Calon Arang (1957)
12. Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958)
13. Bumi Manusia (1980)
14. Anak Semua Bangsa (1980)
15. Jejak Langkah (1985)
16. Gadis Pantai (1987)
17. Hikayat Siti Mariah (1987)
18. Rumah Kaca (1987)
19. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995)
20. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1996)
21. Arus Balik (1995)
22. Arok Dedes (1999)
23. Larasati (2000)
B. Kumpulan Cerita Pendek
1. Subuh (1950)
2. Percikan Revolusi (1950)
3. Cerita dari Blora (1952)
4. Cerita dari Jkarta (1957)
C. Novel Terjemahan
1. Tikus dan Manusia karya John Steinbeck (1950)
2. Kembali kepada Cinta Kasihmu karya Leo Tolstoy (1950)
3. Perjalanan Ziarah yang Aneh karya Leo Tolstoy (1956)
4. Kisah Seoraang Prajurit Soviet karya Mikhail Sholokov (1956)
5. Ibu karya Maxim Gorky (1956)
6. Asmara dari Rusia karya Alexander Kuprin (1959)
7. Manusia Sejati karya Boris Posternak (1959)
Penghargaan:
Karena kreativitasnya dalam menulis karya sastra, Pramoedya Ananta Toer banyak mendapat hadiah, anugerah, dan penghargan. Berikut ini adalah hadiah, anugerah, dan penghargan yang diterima Pramoedya.
1. Hadiah Sastra dari Balai Pustaka atas novelnya Perburuan (1950)
2. Hadiah Sastra dari BMKN atas kumpulan cerpennya Cerita dari Blora (1952)
3. Anugerah Freedom to Write Award (PEN American Centre, Amerika Serikat) (1980)
4. Anugerah The Fund for Free Expression (New York, Amerika Serikat) (1992)
5. Anugerah Stichting Wertheim dari negeri Belanda (1995)
6. Anugerah Ramon Magsaysay dari Filipina (1995)
7. Penghargaan Unesco Madanjeet Singh Prize oleh Dewan Eksekutif Unesco (1996)
8. Anugerah Le Chevalier de l’ordre des Arts et des Letters dari Prancis (2000)
Samsuri


LATAR BELAKANG KELUARGA:
Prof. Samsuri, M.A., Ph.D
Samsuri dilahirkan pada tanggal 31 Juli 1925 di Mojokerto, Jawa Timur.
Samsuri bertempat tinggal di Jalan Serang 3 Malang.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
Beliau telah menyelesaikan pendidikan sebagai berikut:
(1) Sekolah Dasar pada tahun 1939 di Mojokerto,
(2) HIK pada tahun 1944 di Yogyakarta,
(3) SGA pada tahun 1953 di Surabaya,
(4) Sarjana Muda pada tahun 1956 di Yogyakarta,
(5) Menyelesaian program master pada tahun 1958 dan program doktor dalam bidang Pendidikan Bahasa Inggris di Bloomington University, Indiana, USA.
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:
Sebelum menjadi dosen UM , Samsuri pernah menjadi:
(1) Guru di SDN Mojokerto (1944-1945),
(2) Guru SD Netral Yogyakarta (1945- 1946), dan
(3) Guru SMP Mojokerto (1949-1953).
Dia menjadi dosen UM mulai tahun 1958. Gelar Guru Besar dalam bidang Pendidikan Bahasa Inggris diperolehnya pada tahun 1988.
Selama menjadi dosen UM jabatan yang pernah diemban adalah:
(1) Dekan FKSS (1965-1970), dan
(2) Rektor (1970-1974).
Di samping itu, dia juga pernah menjadi:
(1) Anggota Steering Committee RELC (Regional Englisg Language Center), Singapura (1969--1974), dan
(2) Koordinator Proyek Penelitian Madura kerjasama Indonesia-Belanda (1977—1983).
Kemudian sejak tahun 1990 dia menjadi dosen tetap FS Universitas Tujuh Belas Agustus 45 Surabaya.
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:
KARYA:
Karya-karya ilmiahnya yang menonjol adalah:
(1) Analisis Bahasa (1978),
(2) Tata Kalimat Bahasa Indonesia (1982),
(3) Berbagai Aliran Linguistic Abad ke-XX (1988), dan
(4) Morfologi dan Pembentukan Kata (1988).
Share this article :

1 komentar:

nabiila adiibah mengatakan...

saya cari yang singkat, untuk dijadikan soal...
kalau ini, terlalu banyak...



 
Support : Tohib Mustahib
Copyright © 2013. BAHASA DAN SASTRA INDONESIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger