.

SASTRA DAN PUISI

Written By Hadi Prayitno on Selasa, 20 Juli 2010 | 14.22

SASTRA PUISI
Berdasarkan wujudnya, karangan dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:
1.Prosa, yaitu karangan yang berwujud kalimat-kalimat yang disatukan dalam alenia-alenia.
2.Puisi, yaitu karangan yang berwujud baris-baris yang disatukan menjadi bait-bait.
3.Drama, yaitu karangan yang berwujud dialog atau percakapan tokoh.

Sebagai salah satu bentuk seni, puisi tentulah memiliki keindahan. Keindahan puisi terwujud melalui pemilihan kata (diksi), rima dan irama, penggunaan citraan, tipografi (wujud puisi), dan gaya bahasa.

Diksi dan Bunyi dalam Puisi
Dalam pemilihan kata, penyair mempertimbangkannya dari segi ketepatan makna dan kemampuan kata-kata itu dalam menghasilkan bunyi yang indah. Bunyi yang indah dapat terbentuk oleh adanya rima (persamaan bunyi) dan irama (alunan pengucapan).
Keindahan bunyi pada puisi bukan sekadar karena kemerduannya saat dibaca, melainkan juga karena mampu menghadirkan suasana yang sesuai dengan isi puisi. Dengan demikian, puisi akan hadir dengan kesan yang kuat. Itulah sebabnya, terdapat kaitan erat antara pemilihan kata, kemerduan bunyi, dan suasana yang ingin digambarkan.
Untuk jelasnya, perhatikan penggalan puisi karya Rendra ini !

Surat Cinta
Kutulis surat ini
Kala hujan gerimis
Bagai bunyi tambur mainan
Anak-anak peri dunia yang gaib
Dan angin mendesah
Mengeluh dan mendesah
Wahai, dik Narti
Aku cinta kepadamu
....

Suasana apakah yang muncul dalam puisi tersebut ? Keriangan yang bercampur dengan kelembutan hati, bukan? Bandingkanlah dengan puisi karya Mansur Samin ini !

Pidato Seorang Demonstran

mereka telah tembak teman kita
ketika mendobrak sekretariat negara
sekarang jelas bagi saudara
bagaimana kebenaran hukum di Indonesia
....

Suasana kacau, marah, dan keras muncul dalam puisi tersebut jika dibaca.
Kemampuan kata-kata dalam puisi dalam menghadirkan suasana tertentu dibentuk oleh penekanan atas rangkaian bunyi tertentu. Dalam puisi di atas, bunyi /i/ dan /u/ yang dipadu dengan /r/, /t/, /n/ memunculkan suasana riang, sedangkan ketika /i/ dan /u/ dipadu dengan /m/, /ng/, /s/, /h/ melahirkan suasana lembut.

Perhatikan : ... hujan gerimis
... bunyi tambur mainan
anak-anak peri dunia yang gaib
...
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah
....

Lain halnya dengan puisi kedua. Paduan bunyi /a/ dengan bunyi /k/ , /b/, dan /r/ berhasil memunculkan suasana marah, kacau, dan keras.
Bunyi-bunyi yang dimaksudkan untuk membentuk suasana puisi biasanya diulang-ulang hingga membentuk irama dan rima. Resapi keindahan bunyi pada kutipan puisi berikut :

a). ...
para pelayat melantun doa
gema pantulan lubuk jiwa
mengantar jeriazahmu ke makam
mentari sendu alam temaram
...
(Warisan 2, Piek Ardiyanto S.)

b) ...
Biar susah sungguh
mengingat kau penuh seluruh
caya-Mu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
...
(Doa, Chairil Anwar)
c). Perkabungan
Sehelai pita hitam
menjuntai pada lengan
mulut tercekam, mata terpejam,
kepala tertunduk dalam
- sungkawa pada korban para tiran.
(Sitok Srengenge)

Citraan dalam Puisi
Rima dalam puisi akan menghadirkan suasana atau perasaan yang diinginkan. Namun demikian, seperti apakah tepatnya suasana perasaan yang ingin diungkapkan penyair, tidak dapat sepenuhnya disajikan hanya melalui rima. Untuk memperjelas gambaran perasaan penyair, digunakanlah citraan, yaitu kata-kata yang menunjukkan gambaran (citra) tertentu. Dengan kata-kata yang menunjukkan citra atau gambaran itu, pembaca puisi akan lebih mudah membayangkan hal yang dimaksudkan oleh penyair. Gambaran atau citraan dalam puisi ada beberapa jenis, yaitu:
a.Citraan Penglihatan
Citraan ini terwujud dengan penggunaan kata yang merupakan hasil kerja indera penglihatan, misalnya gerimis, mainan anak-anak peri, mentari, temaram, jenazah, hitam, gelap, terang.
b.Citraan Pendengaran
Citraan ini terwujud dengan penggunaan kata yang merupakan hasil kerja indera pendengaran, misalnya bunyi tambur, mendesah, mengeluh, melantun doa, gema.
c.Citraan Penciuman
Citraan ini terwujud dengan penggunaan kata yang merupakan hasil kerja indera penciuman, misalnya wangi, anyir, harum.
d.Citraan Pengecapan
Citraan ini terwujud dengan penggunaan kata yang merupakan hasil kerja indera pengecap, misalnya asam, pahit, manis, gurih, sedap.
e.Citraan Perabaan
Citraan ini terwujud dengan penggunaan kata yang merupakan hasil kerja indera peraba, misalnya kasar, halus, licin, bergerigi, tajam, tumpul.
f.Citraan Gerak
Citraan ini terwujud dengan penggunaan kata yang menunjukkan gerakan tertentu, misalnya menjuntai, mulut tercekam, mata terpejam, mengantar, kepala tertunduk, mengusap, memukul, mendobrak.

Nilai dalam Puisi
Selain mengandung keindahan bahasa (berupa rima, irama, dan perlambangan), puisi juga mengandung nilai-nilai tertentu. Yang dimaksud nilai adalah konsep kebenaran atau ajaran yang dianggap penting bagi kehidupan.
Ada berbagai nilai yang dapat diungkapkan penyair, misalnya nilai keagamaan, nilai budaya, nilai sosial, dan nilai moral. Nilai-nilai dalam puisi berkaitan erat dengan pesan atau amanat yang ingin disampaikan penyairnya.
Nilai dan pesan puisi hanya akan diperoleh jika pembaca mampu memahami isi puisi. Nah, pemahaman atas puisi antaran lain dapat dilakukan dengan melakukan parafrase.

Memahami Isi Puisi
Lantaran bentuknya yang “padat”, memahami puisi tidaklah semudah prosa. Meski demikian, memahami isi puisi sesungguhnya tidak sesulit yang dibayangkan orang pada umumnya. Nah, jika kamu ingin memahami puisi, pertanyaan-pertanyaan berikut dapat kamu gunakan sebagai panduan:
1.Apakah kira-kira maksud judulnya?
2.Hal apakah yang dibicarakan penyair?
3.Sebagai siapakah penyair berbicara pada puisi itu?
4.Kepada siapakah penyair berbicara?
5.Dengan perasaan yang bagaimanakah penyair berbicara pada puisi itu?
6.Apa pendapat yang ingin disampaikan penyair melalui puisi itu?
7.Bagian-bagian manakah yang membuktikan jawaban-jawabanmu tadi?

Parafrase Puisi
Sebagaimana telah dikatakan di muka, dibandingkan dengan prosa, puisi umumnya lebih sulit dipahami. Hal ini dikarenakan puisi bersifat konsentif dan intensif. Artinya, hanya kata dan tanda baca yang mendukung makna dan keindahan saja yang disajikan. Kata-kata dan tanda baca yang tidak terlalu berkait “dihilangkan”. Karena itulah, pemahaman puisi dapat dilakukan dengan “mengembalikan” kata-kata yang “dihilangkan” itu. Dengan demikian, maksud yang ingin disampaikan penyair menjadi lebih mudah ditangkap. Cara ini disebut dengan parafrase.
Berdasarkan bentuknya, parafrase dibedakan menjadi dua model. Pertama, parafrase yang masih memperlihatkan puisi aslinya. Pada parafrase jenis ini kata-kata tambahan dituliskan dalam tanda kurung.
Kedua, parafrase yang sudah tidak memperlihatkan bentuk asli puisinya. Pada parafrase model ini tanda baca kurung tidak dipergunakan. Wujud parafrase ini benar-benar serupa dengan prosa.
Gar jelas, bacalah puisi yang dikutip dari kumpulan puisi Kaki Langit Sastra Pelajar berikut dan bandingkan dua model parafrasenya.

Bocah Terpaku

Apakah kau tahu bocah-bocah terpaku pada hampa
Mama! Bapakku di mana
Dan janda muda dibelai kasih tersisa
Anakku! bapakmu airmata

(karya Irfan Maulana)


Parafrase Model 1:

Bocah Terpaku

Apakah kau tahu (kesedihan) bocah-bocah yang hatinya terpaku pada (harapan dan hati yang) hampa
(tatkala ia bertanya kepada ibunya: ) Mama! Bapakku di mana
Dan (ibunya,) janda muda (yang) dibelai kasih tersisa
(menjawab) Anakku! (pertanyaanmu tentang) bapakmu (hanya akan menimbulkan kesedihan dan) airmata

Parafrase Model 2:
Bocah Terpaku
Apakah kau tahu akan sedihnya perasaan bocah-bocah yang hatinya tatkala ia bertanya kepada ibunya,” Mama, Bapakku di mana?”. Dan ibunya, janda muda yang telah ditinggal suaminya itu, hanya bisa menjawab: “Anakku, pertanyaanmu tentang bapakmu hanya menimbulkan kesedihan dan airmata bagiku dan juga bagimu.

A. Membaca Puisi dengan Lafal dan Intonasi Sesuai dengan Isinya
Membacakan puisi dengan menarik bisa menghibur orang lain. Akan tetapi, hal tersebut tidak dapat dilakukan sembarangan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Pemahaman
Pembaca puisi harus memahami benar makna puisi yang hendak dibacakan. Karena itu, ia harus memahami kata-kata dan perlambangan yang digunakan. Dengan pemahaman itu ia akan dapat memahami isi puisi yang akan dibacakannya.
Isi puisi meliputi makna dan perasaan penyair. Guna memahami keduanya, pertanyaan-pertanyaan berikut dapat digunakan sebagai panduan.
a.Hal apakah yang dibicarakan penyair pada puisinya itu?
b.Sebagai siapakah penyair berbicara pada puisi itu?
c.Kepada siapakah penyair berbicara pada puisi itu?
d.Dalam perasaan sedih, jengkel, marah, pasrah, gembira, cemburu, rindu, kecewa, sombong, atau bingungkah penyair berbicara pada puisi itu?
e.Di manakah kira-kira penyair berbicara pada puisi itu?
f.Pesan apakah yang ingin disampaikan penyair melalui puisi itu?

2. Intonasi
Intonasi terdiri atas jeda, tekanan (dinamik), dan tempo (cepat-lambat pengucapan). Jeda atau perhentian pengucapan sangat menentukan makna yang dimaksud. Peletakan jeda yang berbeda memungkinkan terjadinya perbedaan makna.
Contoh:

a.Adik Ibu Rini Astuti / sakit (Yang sakit adalah Ibu Rini Astuti)
b.Adik Ibu/ Rini Astuti/ sakit (yang sakit adik ibu. Adik ibu itu bernama Rini Astuti)
c.Adik Ibu Rini / Astuti / sakit (yang sakit adalah adik dari Ibu Rini. Ia bernama Astuti)
Tekanan menunjukkan bagian yang dipentingkan. Sedangkan cepat-lambat menunjukkan perasaan yang ingin diungkapkan. Dalam praktiknya, tekanan dan cepat-lambat terjalin erat. Bagian yang dipentingklan atau yang memperoleh tekanan biasanya diucapkan lebih lambat, sedangkan bagian yang tidak memperoleh tekanan, biasanya diucapkan lebih cepat.
Agar lebih jelas, ucapkanlah baris berikut. Berikanlah tekanan pada kata yang bercetak tebal dan rasakan perbedaan cepat-lambat pengucapannya.
Dialah guru bagi bangsa kami
Dialah guru bagi bangsa kami
Dialah guru bagi bangsa kami

3. Lafal
Yang dimaksud dengan lafal adalah ketepatan pengucapan . Pembaca puisi yang baik harus terampil membedakan kata-kata yang bunyi hampir sama, misalnya kata toko dengan tokoh, tahu – tahu (mengerti), baku dengan bakau, dan sebagainya. Untuk itu, ia harus melatih kelenturan alat ucapnya.

4. Ekspresi Mimik dan Gerak
Membaca puisi dengan menarik harus disertai dengan mimik atau ekspresi wajah dan gerak yang sesuai. Selain lebih menarik dilihat, mimik dan gerak yang sesuai akan menjadikan puisi yang dibacakan lebih mudah dipahami pendengar.

5. Volume
Yang dimaksud dengan volume adalah kerasnya suara. Pembaca puisi yang baik harus berusaha agar suaranya cukup mudah ditangkap pendengarnya. Betapa pun baiknya pembacaan, tentu sia-sia apabila tidak secara jelas ditangkap oleh telinga pendengar. Karena itu, kerasnya suara perlu diperhatikan, terutama jika pembacaan puisi tidak dibantu dengan alat pengeras suara.

Soal Latihan Semester dari Bab 7 Kelas 1
Pilihlah jawaban yang benar dengan memberi tanda silang pada pilihan (a), (b), (c), (d), atau (e)!
1.Tanda jeda diletakkan secara tepat pada ….
a. Akulah/ tempaan batu bulan/
Yang jatuh/ di malam kelam//
b. Akulah tempaan batu /bulan
Yang jatuh/ di malam kelam//
c. Akulah / tempaan batu bulan/
Yang jatuh di malam kelam//
d. Akulah tempaan / batu bulan//
Yang jatuh di malam kelam//
e. Akulah tempaan batu bulan//
Yang jatuh/ di malam kelam//

2.Purnama
Bulan mengembara pada telaga
Dunia miliknya
Semalam Cuma
Bulan di sana cahaya di sini
Semalam Cuma
(karya Dodi Gunawan)

Nilai yang diungkapkan dalam puisi di atas adalah ….
a.Nilai budaya
b.Nilai keagamaan
c.Nilai sosial
d.Nilai moral
e.Nilai pengetahuan

3.Kalimat berikut tergolong kalimat efektif, kecuali …
a.Atas perhatiannya diucapkan terima kasih
b.Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih
c.Atas perhatian Saudara kami ucapkan terima kasih
d.Atas perhatian Ibu, kami ucapkan banyak terima kasih
e.Atas perhatian Bapak, kami ucapkan terima kasih
4.Penulisan bagian surat dinas yang benar adalah ….
a.Semarang, 3 Maret 2006
b.5 Januari 2007.
c.Yth. Bapak Kapolres Sukabumi
di Sukabumi
d.Dengan hormat,
e.Hormat kami.
5.Kalimat surat yang menggunakan kata secara tepat adalah ….
a.Dengan ini kami meminta kesediaan Bapak untuk berkenan hadir pada rapat pengurus pada …
b.Dengan ini kami mengharap kehadiran Bapak untuk datang pada rapat pengurus pada …
c.Denga ini kami memohon kehadiran Bapak untuk dapat hadir pada rapat pengurus pada
d.Dengan ini kami mengharap kehadiran Bapak untuk hadir pada rapat pengurus pada …
e.Dengan ini kami mengundang kehadiran Bapak untuk datang pada rapat pengurus pada …
6.Konjungtor antarkalimat digunakan secara tepat pada ….
a.Pembacaan puisinya sangat menyentuh hati sehingga banyak penonton yang menitikkan air mata
b.Pembacaan puisinya sangat menyentuh hati.Sehingga, banyak penonton yang menitikkan air mata
c.Pembacaan puisinya sangat menyentuh hati. Maka, sehingga banyak penonton yang menitikkan air mata
d.Pembacaan puisinya sangat menyentuh hati karena itu, banyak penonton yang menitikkan air mata
e.Pembacaan puisinya sangat menyentuh hati. Karen itu, banyak penonton yang menitikkan air mata

Esai:
1.Kepala sekolahmu mengundang para orang tua / wali murid kelas 12 untuk menghadiri acara Perpisahan Siswa Kelas 12. Buatlah surat undangan untuk keperluan tersebut!

D. Sastra Melayu Klasik

Karya satra Melayu klasik? Apa pula itu? Karya sastra Melayu klasik merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut segala karya sastra berbahasa Melayu yang dibuat sebelum tahun 1920. Karya sastra berbahasa Melayu yang dibuat sesudah tahun 1920 disebut karya sastra Indonesia. Pasalnya, tahun 1920 (awal Angkatan Balai Pustaka) merupakan awal lahirnya sastra Indonesia. Kamu tentu tahu, pada persitiwa Sumpah Pemuda 1928 bahasa Melayu telah diangkat sebagai bahasa nasional Indonesia.
Bentuk karya sastra Melayu klasik ada berbagai macam. Yang berbentuk puisi terdiri atas mantra, syair, pantun, pepatah, ibarat, dan sebagainya. Sedangkan yang berupa prosa terbagi atas beberapa jenis, antara lain:
1.Hikayat atau cerita tentang tokoh terkenal, biasanya raja atau keluarga raja.
2.Legenda atau kisah tentang asal usul suatu tempat
3.Mite atau kisah tentang dewa-dewa atau mahluk gaib
4.Sage atau kisah tentang kepahlawanan seseorang
5.Fabel atau kisah yang tokohnya binatang
6.Parabel atau ajaran agama yang disajikan dalam bentuk kisah sebagai perumpamaan
7.Epos atau cerita besar tentang kepahlawanan
8.Cerita jenaka atau kisah yang berisi kelucuan
9.Sejarah atau kisah yang berkait dengan sejarah. Berbeda dengan ilmu sejarah, kisah sejarah pada satra Melayu klasik dibumbui dengan hal-hal fantastis sehingga tidak masuk akal dan belum tentu terbukti kebenarannya.
Share this article :

0 komentar:



 
Support : Tohib Mustahib
Copyright © 2013. BAHASA DAN SASTRA INDONESIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger